Enam dekade kemudian, Prancis menjuarai Piala Dunia 1998 dengan tim yang dijuluki "Black-Blanc-Beur".

Tim itu menjadi simbol keberhasilan integrasi imigran, dengan Zinedine Zidane berdarah Aljazair sebagai pahlawan nasional.

Fenomena ini kian matang pada abad ke-21. Pada Piala Dunia 2022, Maroko mengejutkan dunia dengan menembus semifinal, negara Afrika sekaligus Arab pertama yang mencapainya.

Maroko bermodalkan 14 dari 26 pemain yang lahir di luar negeri, tersebar dari Spanyol, Prancis, Belgia, Belanda, hingga Kanada.

Pelatih Walid Regragui, yang lahir di Prancis, menjadikan keberagaman itu sebagai kekuatan.

Tren ini terus melaju. Skuad Maroko untuk 2026 bahkan memuat 19 pemain kelahiran luar negeri.

Menurut analisis Migration Observatory, University of Oxford, Piala Dunia 2026 diperkirakan menampilkan pemain kelahiran luar negeri terbanyak sepanjang sejarah.

Hampir seperempat dari 1.248 pemain lahir di negara yang berbeda dari yang mereka bela.

Indonesia tengah menapaki jalur serupa melalui naturalisasi pemain diaspora, terutama dari Belanda. Pemanfaatan ikatan darah (jus sanguinis) mengubah luka sejarah kolonial menjadi kolaborasi profesional.

Multikulturalisme dalam sepak bola bukan sekadar daftar nama dengan paspor berbeda.

>>> Kementerian ATR/BPN Usulkan Pagu Anggaran Rp10,6 Triliun untuk 2027

Ini adalah proses negosiasi identitas yang terus berkembang, tentang siapa "kita" dan apa artinya membela bangsa di tengah dunia yang kian cair.

Fair Play dan Luka yang Belum Sembuh

Di sinilah pesan terdalam sepak bola terbaca: kerja sama dan fair play yang melintasi sekat ras dan bangsa.

Contoh paling ikonik adalah pertemuan 1998 di Lyon, ketika pemain Iran menyodorkan mawar putih kepada pemain Amerika Serikat di tengah permusuhan diplomatik.