Setiap empat tahun, dunia berhenti sejenak untuk menyaksikan ritual yang melampaui olahraga.

Piala Dunia FIFA 2026 digelar pada 11 Juni hingga 19 Juli di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

>>> Kredit Krom Bank Melonjak 93 Persen Hingga April 2026

Turnamen ini memecahkan rekor dengan 48 tim dan 104 pertandingan. Lebih dari sekadar perebutan trofi, ajang ini menjadi panggung terbesar keberagaman manusia.

Di lapangan hijau, pemain dari berbagai ras, bangsa, agama, dan bahasa bekerja sama menuju satu tujuan. Mereka kemudian berjabat tangan dengan lawan yang sama beragamnya.

Sepak bola menjelma menjadi praktik multikulturalisme yang hidup. Bukan sekadar teori di ruang kuliah, melainkan realitas yang terlihat di setiap pertandingan.

Apa Itu Multikulturalisme?

Secara konseptual, multikulturalisme bukan hanya kenyataan bahwa banyak budaya hidup berdampingan.

Filsuf seperti Charles Taylor dan Will Kymlicka memaknainya sebagai sikap politik dan moral yang mengakui, menghormati, serta memberi ruang setara bagi keberagaman identitas budaya.

Multikulturalisme adalah politik pengakuan bahwa perbedaan bukan ancaman yang harus diseragamkan. Perbedaan justru menjadi sumber daya bersama yang memperkaya.

Dalam konteks sepak bola, makna itu menjadi sangat konkret. Sebelas orang dengan latar belakang berbeda harus melebur menjadi satu tim yang padu.

Dua tim yang sama-sama beragam harus tunduk pada aturan main yang setara dan semangat fair play. Pesannya sederhana: keberagaman dapat bekerja jika ada aturan adil dan rasa hormat.

Dari Hindia Belanda 1938 ke Diaspora 2026

Sejarah Piala Dunia adalah katalog panjang multikulturalisme.

Hindia Belanda, cikal bakal Indonesia, tercatat sebagai wakil Asia pertama pada 1938 dengan skuad multietnis: campuran pemain pribumi, Tionghoa, dan Indo-Eropa.