Kedua tim berfoto bersama, melanggar protokol standar.

FIFA memberi kedua tim Fair Play Award, bukti bahwa atlet kerap lebih dewasa daripada politikus yang gagal berdamai.

Setiap pertandingan adalah latihan kecil hidup berdampingan: menghormati lawan, tunduk pada keputusan wasit, dan menerima kekalahan dengan lapang.

Pesan moral ini terus berulang dari satu turnamen ke turnamen berikutnya.

Namun, panggung yang sama juga memantulkan luka. Multikulturalisme di lapangan tidak otomatis menghapus prasangka di luarnya.

Pada final Euro 2020, tiga pemain kulit hitam Inggris—Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka—diserang ujaran rasis setelah gagal mengeksekusi penalti.

Padahal sepanjang turnamen, skuad muda multietnis itu berlutut sebagai sikap melawan ketidakadilan rasial.

Di Eropa daratan, rentetan pelecehan terhadap Vinícius Júnior melahirkan "Vinicius Law" di Brasil. Undang-undang itu mengizinkan penghentian pertandingan bila terjadi rasisme.

Lapangan adalah cermin masyarakat: indah sekaligus retak. FIFA merespons dengan kebijakan toleransi nol lewat kampanye "Global Stand Against Racism", menjadikan rasisme pelanggaran disipliner spesifik.

Visi besar FIFA bertumpu pada moto "Football Unites the World". Perluasan menjadi 48 tim membuka peluang bagi lebih banyak asosiasi anggota untuk tampil di pentas dunia.

Program FIFA Forward menyalurkan investasi hingga jutaan dolar untuk pengembangan sepak bola di tiap negara. Bahkan menjelang 2026, FIFA meluncurkan "FIFA Peace Prize", penghargaan perdamaian tahunan.

Namun, visi agung itu kerap berbenturan dengan realitas politik.

Edisi 2026 menyimpan ironi: untuk pertama kalinya, seorang tuan rumah menerima tim dari negara yang sedang berkonflik militer dengannya, ketika delegasi Iran menghadapi pembatasan visa ketat.

Peristiwa ini mengingatkan bahwa keberhasilan multikultural sepak bola sering bersifat momentum. Euforia kemenangan menyatukan untuk sesaat, tetapi belum mencabut akar prasangka yang tertanam dalam masyarakat.

Dari satu Piala Dunia ke Piala Dunia berikutnya, dari Hindia Belanda 1938 hingga Amerika Utara 2026, sepak bola berperan sebagai sekolah multikulturalisme dunia.

Ini adalah ruang tempat bangsa-bangsa belajar bekerja sama, bersaing secara adil, dan menerima perbedaan.

Hanya saja, sekolah ini belum pernah benar-benar meluluskan murid-muridnya.

>>> Kenali Enam Sikap Anak yang Menandakan Pola Asuh Berhasil

Jika sembilan puluh menit di lapangan mampu membuat dua bangsa bermusuhan berfoto bersama, mengapa pelajaran tentang kebersamaan itu begitu cepat dilupakan setelah peluit panjang dibunyikan?