Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax tidak hanya menambah biaya transportasi rumah tangga, tetapi juga berpotensi mengubah pola mobilitas masyarakat perkotaan.

Namun, keterbatasan layanan transportasi umum membuat peralihan dari kendaraan pribadi ke angkutan massal diperkirakan belum terjadi secara signifikan dalam waktu dekat.

>>> Unesa Buka Jalur Mandiri Non Tes Rapor, Kuota 1.800 Mahasiswa

Tekanan makin nyata ketika pemerintah juga membuka wacana penyesuaian tarif Transjakarta yang selama hampir dua dekade bertahan di level Rp3.500 per perjalanan.

Bagi sebagian masyarakat perkotaan, kombinasi kenaikan harga BBM nonsubsidi dan potensi kenaikan tarif angkutan umum dinilai dapat mempersempit ruang penyesuaian pengeluaran transportasi.

Dampak Kenaikan Harga Pertamax

Ketua Forum Transportasi Jalan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pangestu B. Darmo mengatakan setiap perubahan kebijakan transportasi akan memengaruhi perilaku perjalanan masyarakat.

Menurutnya, kenaikan harga Pertamax akan langsung meningkatkan biaya mobilitas kelompok menengah sehingga masyarakat mulai menghitung ulang pilihan moda transportasi yang paling ekonomis.

Sebagaimana diketahui, PT Pertamina (Persero) memutuskan mengerek naik harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dan harga Pertamax Green 95 (RON 95) juga dikerek naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Pangestu berpandangan kondisi tersebut berpotensi mendorong sebagian pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum, termasuk Transjakarta.

Namun, potensi perpindahan itu masih terbentur cakupan layanan yang belum menjangkau seluruh pusat kegiatan ekonomi dan kawasan permukiman.

“Dengan kondisi ini, secara umum belum tentu kenaikan Pertamax akan membuat masyarakat berpindah ke transportasi umum atau Transjakarta secara signifikan,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).

Pangestu menilai sebagian masyarakat tetap akan bergantung pada kendaraan pribadi karena keterbatasan akses transportasi umum.