Menurut Yusuf, respons masyarakat tidak selalu berupa perpindahan dari Pertamax ke Pertalite.

Sebagian rumah tangga kemungkinan memilih mengurangi perjalanan yang tidak mendesak, mengatur ulang waktu perjalanan, atau mencari moda transportasi yang lebih murah.

Kelompok yang paling rentan melakukan penyesuaian adalah pekerja komuter dan rumah tangga berpendapatan menengah bawah yang memiliki kebutuhan mobilitas tinggi tetapi kemampuan menyerap kenaikan biaya transportasi relatif terbatas.

“Tekanan biaya transportasi memang dapat menurunkan daya beli dalam jangka pendek dan mendorong berbagai bentuk penyesuaian perilaku masyarakat,” jelasnya.

Dalam jangka panjang, Yusuf menilai pembangunan sistem transportasi umum yang terintegrasi tetap menjadi solusi utama untuk menekan biaya mobilitas masyarakat.

Selain mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, transportasi publik yang andal juga dinilai dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan mengurangi kerugian ekonomi akibat kemacetan.

Pada akhirnya, kenaikan harga BBM belum tentu otomatis mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum.

>>> Thomas Tuchel Beri Libur Tambahan untuk Skuad Timnas Inggris

Selama akses dan kualitas layanan angkutan massal belum merata, pilihan mobilitas masyarakat akan tetap terbatas.