Trump juga menegaskan komitmen Teheran dalam kesepakatan konseptual ini untuk tidak membeli atau mengembangkan senjata nuklir dalam bentuk apa pun.

"They will not have a nuclear weapon, they've agreed to that," ujarnya.

Menurut keterangan Trump di Oval Office, pihak negosiator Iran menginginkan kesepakatan damai ini sama besarnya atau bahkan lebih dari pihak Amerika Serikat.

Sebelum pengumuman damai ini muncul, situasi sempat memanas akibat jatuhnya helikopter militer AS pada hari Senin, yang dibalas dengan serangan rudal beruntun dari kedua belah pihak selama hari Selasa dan Rabu.

Pihak Gedung Putih menambahkan bahwa Selat Hormuz yang menjadi jalur krusial minyak dunia akan langsung dibuka kembali segera setelah dokumen kesepakatan resmi ditandatangani.

Dalam keterangan terpisah kepada jurnalis, Trump mengindikasikan adanya lampu hijau dari pemimpin tertinggi Iran yang baru terkait kesepakatan pengamanan material nuklir ini.

>>> 5 Manfaat Introspeksi Diri Menjelang Tahun Baru Islam

"I understand the answer is yes," katanya.

Trump menyatakan bahwa poin-poin final kesepakatan telah disetujui oleh banyak pihak regional, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Turki, Pakistan, Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Mesir.

Iran Bantah Adanya Kesepakatan Final

Beberapa jam sebelum pembatalan tersebut, Trump sempat melontarkan ancaman keras untuk melumpuhkan total sisa pertahanan udara dan mengambil alih infrastruktur minyak Iran di Pulau Kharg.

"The United States will be hitting Iran VERY HARD TONIGHT," tulis Trump di media sosial.

Ia bahkan menegaskan ambisi AS untuk memegang kendali penuh atas pasar gas dan minyak Iran dalam waktu dekat.

Di pihak lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei memberikan respons berbeda melalui kantor berita resmi IRNA dengan menyebut kabar kesepakatan final itu sebagai spekulasi belaka.