Industri asuransi umum mencatatkan laba setelah pajak sebesar Rp3,72 triliun pada kuartal I/2026.

Angka ini meningkat 1,6 persen dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai Rp3,66 triliun.

>>> KEK Industropolis Batang Raih Penghargaan Orang Tua Asuh Desa

Kenaikan tersebut dipicu oleh empat faktor utama keuangan yang terjadi pada Maret 2026.

Data ini tercatat dalam statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dilansir pada Kamis (11/6/2026).

Empat Faktor Pendorong Kenaikan Laba

Faktor pertama adalah lonjakan hasil underwriting sebesar 30,1 persen.

Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menyebut kontribusi terbesar berasal dari sektor operasional ini.

"Kontributor terbesar kenaikan laba berasal dari peningkatan hasil underwriting yang mencapai sekitar Rp1,69 triliun atau tumbuh 30,1%," ujar Dody.

>>> Kemenkes Dorong Pelaku Usaha Kesehatan Ikut Sensus Ekonomi 2026

Ia menambahkan bahwa pertumbuhan premi masih lebih tinggi dibandingkan kenaikan klaim neto.

Faktor kedua adalah hasil investasi yang tumbuh 26,2 persen, terutama dari deposito dan surat berharga.

Faktor ketiga berasal dari penguatan premi di segmen korporasi, properti, engineering, kredit, dan perdagangan yang melampaui pertumbuhan klaim.

Faktor keempat adalah perbaikan kinerja reasuransi yang memperkokoh profitabilitas secara menyeluruh. Menurut Dody, selektivitas dalam pengelolaan portofolio bisnis dan efektivitas reasuransi menjadi kunci menjaga profitabilitas.

"Kenaikan laba industri pada Maret 2026 dapat dinilai sebagai kenaikan yang berkualitas, karena lebih banyak berasal dari perbaikan underwriting dibandingkan dari faktor non-operasional," jelasnya.

>>> Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global Jadi 2,5% Akibat Perang Iran

Kondisi ini menegaskan bahwa fundamental bisnis asuransi umum dan reasuransi berada dalam posisi yang lebih sehat dibandingkan dengan pencapaian pada Februari 2026.