Sektor ritel nasional dilaporkan mengalami perlambatan akibat penurunan daya beli masyarakat. Kondisi ini dipicu oleh situasi ekonomi yang penuh gejolak serta kekhawatiran masyarakat terhadap potensi kehilangan pekerjaan.

Roy, mantan Ketua Umum APRINDO, menyatakan bahwa indikator makro dan mikro menunjukkan perlambatan sektor ritel.

>>> Kejagung Beberkan Aliran Dana ke Ketua Ombudsman Hery Susanto

Menurutnya, ritel sangat bergantung pada daya beli, dan ketika daya beli melambat, konsumsi masyarakat ikut tertekan.

Performa ekonomi Indonesia secara fundamental masih relatif aman.

Sektor konsumsi rumah tangga berkontribusi 53-54% terhadap PDB, sementara inflasi terjaga di sasaran 2,5% plus minus 1%.

Namun, stabilitas makro tersebut belum berdampak positif bagi industri ritel. Penjualan ritel tercatat masih mengalami kontraksi 3,7% secara tahunan dan melorot 11,6% secara bulanan.

Pola konsumsi masyarakat kini bergeser menjadi lebih selektif.

Konsumen cenderung memprioritaskan barang kebutuhan pokok dan mengurangi belanja spontan, meskipun Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) per Mei 2026 bertahan di level 120,9.

Roy menegaskan bahwa IKK tidak menggambarkan daya beli.

Optimisme masyarakat masih ada, tetapi dalam praktiknya mereka mengurangi pola belanja karena menghadapi ketidakpastian dan harga yang berfluktuasi.

Fenomena saat ini menunjukkan kelompok kelas menengah lebih memilih membatasi pengeluaran.

Mereka mengalihkan dana untuk memperbesar simpanan di bank sebagai langkah antisipasi, yang berimbas pada kenaikan dana pihak ketiga di perbankan.

Indeks Penjualan Riil (IPR) dinilai masih rapuh dan mudah berubah.

Meskipun penjualan mobil menunjukkan performa baik, lini bisnis tersebut hanya disokong oleh kelompok kelas atas dengan kemampuan finansial tinggi.

>>> Mengenal Emotional Shutdown: Alasan Seseorang Memilih Diam Saat Konflik

Roy menjelaskan bahwa yang mendominasi konsumsi rumah tangga 53-54% adalah kelompok menengah, bukan kelompok atas.