Penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY) mendorong minat investor terhadap instrumen berbasis mata uang tersebut, termasuk reksadana dolar AS.

Saat ini, indeks dolar AS berada di posisi 100,0 atau menguat 1,75% year to date (YTD).

>>> Raffi Ahmad Bantah Keterlibatan Kasus Impor Ilegal Blueray Cargo

Berdasarkan data Infovesta Utama per 8 Juni 2026, sejumlah produk reksadana berbasis USD mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun ini.

Panin Global Sharia Equity Fund membukukan imbal hasil tertinggi dengan return 47,19% YTD.

Di urutan berikutnya, Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas B mencatat return 38,19% YTD, dan Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas A sebesar 36,80% YTD.

Ketiga produk tersebut merupakan reksadana global fund dengan mata uang dolar AS, dengan portofolio pada saham luar negeri.

Risiko dan Peluang Reksadana USD

Vice President Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menjelaskan bahwa kinerja reksadana dolar tidak hanya dipengaruhi oleh nilai tukar, tetapi juga oleh kinerja underlying asset.

Reksadana pendapatan tetap USD yang berinvestasi pada obligasi saat ini tertekan akibat kenaikan inflasi dan suku bunga global.

Pasar berspekulasi suku bunga The Fed akan bertahan tinggi dalam waktu lama, dengan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%.

>>> Ahli Ungkap Urutan Makan yang Tepat untuk Cegah Gula Darah Naik

Kenaikan yield obligasi menekan harga obligasi, sehingga banyak reksadana obligasi dolar AS mencatat kinerja negatif.

Wawan menambahkan, hanya reksadana pasar uang yang konsisten positif.

Namun, peluang pembalikan arah tetap ada karena dalam jangka panjang dolar AS masih menguat terhadap rupiah.

Investor yang mencari eksposur dolar AS dengan risiko rendah dapat memilih reksadana pasar uang dolar AS.

Bagi investor jangka panjang, reksadana saham global atau global fund berbasis dolar AS bisa menjadi opsi menjanjikan.

Produk global fund dapat menempatkan dana hingga 100% pada saham luar negeri, dengan kinerja ditopang saham teknologi seperti semikonduktor dan AI.

>>> Studi: Ibu Hamil Jarang Bergerak Berisiko Komplikasi Dua Kali Lipat

Wawan mengingatkan bahwa investasi mata uang asing memiliki risiko nilai tukar, karena rupiah bisa menguat sewaktu-waktu.