Lembaga Pengelola Investasi Indonesia, Danantara, resmi memulai debut penjualan obligasi global dalam mata uang dolar Amerika Serikat.

Langkah ini menjadi ujian krusial bagi minat investor, terutama di tengah menurunnya kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.

>>> KKP Targetkan 1.369 Kampung Nelayan Merah Putih Rampung Akhir 2026

Dikutip dari Investor Daily, Danantara menawarkan obligasi berukuran benchmark dalam dua tenor, yakni jangka waktu lima tahun dan sepuluh tahun.

Penawaran ini dilakukan di tengah gelombang arus keluar modal asing yang cukup masif dari pasar saham Indonesia sepanjang 2026.

Situasi ekonomi yang menantang memaksa para pengambil kebijakan mengambil langkah agresif guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Investor dikabarkan mulai merasa cemas dengan agenda ekonomi intervensionis Presiden Prabowo Subianto, terutama setelah munculnya rencana sentralisasi ekspor komoditas utama di bawah unit Danantara bulan lalu.

Namun, angin segar mulai berhembus dalam dua hari terakhir bagi pasar keuangan domestik.

Aset-aset keuangan Indonesia mencatatkan pemulihan setelah pemerintah meningkatkan upaya untuk meyakinkan investor asing.

Rupiah mencatatkan penguatan terbesar dalam lebih dari setahun terakhir.

Perkembangan ini diikuti dengan meredanya tekanan pada obligasi dan kenaikan indeks saham.

>>> Alwi Farhan Lolos ke Perempat Final Australian Open 2026

Meski demikian, tantangan struktural masih membayangi perekonomian nasional.

Sebelumnya, lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings dan Moody’s telah merevisi prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif, dengan menyoroti ketidakpastian kebijakan dan kekhawatiran terkait tata kelola.

Rencana Penerbitan Obligasi Rupiah

Selain obligasi dolar AS, Danantara juga dikabarkan berencana menerbitkan obligasi dalam mata uang rupiah dengan imbal hasil di bawah suku bunga pasar.

Rencana ini mulai memicu perdebatan di kalangan pengusaha dan investor, mengingat kemiripannya dengan Patriot Bonds tahun lalu yang sempat menimbulkan keresahan karena dinilai tidak kompetitif.