Ke depan, Rizal memperkirakan yield obligasi korporasi masih berpotensi naik sekitar 25–75 basis poin (bps) hingga akhir semester II 2026, sejalan dengan pergerakan yield SBN dan kebijakan suku bunga.

Namun, laju kenaikan diperkirakan melandai menjelang akhir tahun jika tekanan terhadap rupiah mereda dan inflasi tetap terkendali.

Dengan kondisi saat ini, pasar obligasi lebih menguntungkan bagi investor dibandingkan emiten.

"Investor dapat menikmati imbal hasil yang lebih tinggi dengan pilihan instrumen yang lebih aman, sementara emiten menghadapi kenaikan biaya pendanaan," ujar Rizal.

Ia menilai kondisi ini juga menjadi momentum bagi investor jangka panjang untuk mengakumulasi obligasi korporasi berkualitas.

>>> 10 Kampus Bersaing di National Collegiate Futsal Series 2026

Instrumen tersebut berpotensi memberikan capital gain ketika siklus suku bunga mulai memasuki fase penurunan.