Harga nikel mulai menunjukkan tren kenaikan di awal tahun ini. Pasar menilai lonjakan produksi besar dari Indonesia dalam beberapa tahun terakhir kini mulai melambat.

Situasi tersebut memicu harapan bahwa pasar nikel global dapat bergerak menuju keseimbangan baru. Sebelumnya, pasar mengalami kelebihan pasokan selama empat tahun berturut-turut.

>>> Menteri Koperasi Laporkan 12.533 Koperasi Desa Merah Putih Selesai Dibangun

Meskipun harga menguat, persediaan nikel di gudang bursa dunia masih sangat melimpah.

Stok di London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Futures Exchange mencapai sekitar 468.600 ton, level tertinggi sejak 2015.

Jumlah tersebut diperkirakan setara dengan total kebutuhan nikel dunia selama kurang lebih enam minggu.

Laju pertumbuhan stok di LME mulai melambat, namun persediaan di Shanghai justru meningkat lebih cepat.

Fenomena ini mengindikasikan pergeseran kelebihan pasokan nikel olahan menuju pasar Asia, khususnya China.

Sebelumnya, pasokan di LME terus menanjak selama sembilan bulan sejak Juni tahun lalu hingga Maret tahun ini, sebelum memuncak di bawah 400.000 ton.

Sejak mencapai puncak, persediaan di LME mulai menyusut sekitar 20.000 ton.

Meskipun aliran logam baru masih masuk, peningkatan volume penarikan stok mengindikasikan permintaan yang lebih kuat dari pasar fisik.

Gangguan Produksi di Negara Barat

Rantai pasokan nikel di negara-negara Barat menghadapi dua kendala produksi yang tidak terduga. Pertama, tambang Ambatovy di Madagaskar terpaksa menghentikan operasional sejak Februari akibat kerusakan dari badai siklon.

Fasilitas tersebut mampu memproduksi sekitar 28.000 ton produk nikel jadi pada tahun 2024.

Kedua, kilang nikel Fort Saskatchewan milik Sherritt International di Kanada terancam kehabisan pasokan bahan baku.

Kondisi ini dipicu oleh keputusan perusahaan menghentikan keterlibatan dalam usaha patungan pertambangan di Kuba akibat sanksi terbaru AS.