Angina pektoris merupakan sinyal peringatan dari jantung saat ototnya kekurangan pasokan darah dan oksigen akibat penyempitan pembuluh darah.

Deteksi dini terhadap tanda-tanda ini sangat penting untuk mencegah serangan jantung.

>>> Minahasa Membangun Hebat Targetkan Pendapatan Rp88 Miliar Tahun 2026

Namun, gejala yang muncul pada setiap orang tidak selalu sama, terutama pada perempuan.

Banyak kasus baru diperiksakan ke dokter setelah kondisi berkembang menjadi penyakit jantung yang lebih parah karena gejalanya tidak terdeteksi sejak awal.

Rasa nyeri dada atau tekanan berat saat beraktivitas umumnya menjadi tanda universal.

Keluhan ini biasanya mereda setelah istirahat beberapa menit dan bisa menjalar ke lengan kiri, rahang, punggung, hingga ulu hati, serta terkadang disertai mual dan keringat dingin.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari PERKI, dr. Febtusia Puspitasari, menyebutkan bahwa perempuan sering tidak merasakan nyeri dada yang khas.

"Nyeri dada yang khas untuk serangan jantung sangat jarang, mungkin hanya 20-30%. Sisanya adalah varian," ujarnya.

Respons terhadap nyeri yang berbeda antara perempuan dan laki-laki membuat indikasi angina pada perempuan muncul dalam bentuk tidak terduga.

dr. Febtusia menceritakan pengalaman menangani pasien perempuan dengan keluhan awal kesemutan pada jari kelingking.

Pemeriksaan stress test menunjukkan perubahan pada rekam jantung yang menandakan gangguan aliran darah. "Pada saat dilakukan stress test, EKG-nya berubah," paparnya.

Tanda angina pada perempuan juga kerap menyerupai gangguan pencernaan seperti sakit maag. Hal ini terjadi karena letak beberapa pembuluh darah jantung berdekatan dengan organ di rongga perut.

dr. Febtusia pernah menangani pasien berusia 28 tahun yang berulang kali berobat karena mengira sakit maag. "Begitu di-MCU, treatment test, ternyata sumbatan total," jelasnya.