Pemahaman tentang rezeki seringkali hanya terbatas pada materi seperti uang, pekerjaan, atau kekayaan. Padahal, dalam Islam, rezeki memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Al-Qur'an menggambarkan adanya rezeki yang bersifat kekal, tidak berkurang, dan tanpa batas waktu. Salah satu ayat yang menegaskan hal ini adalah Surat Sad ayat 54.

>>> Ketajaman Reno Salampessy Jadi Sorotan Lini Depan Timnas U19 Indonesia

Allah berfirman: "Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari Kami yang tidak habis-habisnya." (QS Sad: 54).

Ayat pendek ini mengandung pesan mendalam tentang hubungan makhluk dengan Allah, hakikat dunia, dan balasan bagi orang beriman.

Rezeki Bukan Sekadar Harta

Masyarakat umum mengaitkan rezeki dengan kepemilikan harta benda. Namun, para ulama menjelaskan bahwa rezeki mencakup segala karunia Allah kepada makhluk.

Nikmat tersebut bisa berupa kesehatan, usia panjang, keharmonisan keluarga, ilmu bermanfaat, ketenangan jiwa, hingga kesempatan beribadah.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menyebutkan bahwa nikmat paling agung bukanlah materi, melainkan hidayah dan kedekatan kepada Allah.

Kondisi ini membuat seseorang yang berharta melimpah bisa tetap cemas, sementara individu sederhana justru merasakan ketenteraman mendalam.

Tafsir Kenikmatan Abadi Penghuni Surga

Sebagian besar mufasir berpendapat bahwa Surat Sad ayat 54 merujuk pada kenikmatan yang disediakan bagi penghuni surga.

Ayat-ayat sebelumnya menguraikan ganjaran bagi orang bertakwa, mulai dari taman surga, buah melimpah, hingga pasangan yang menyenangkan.

Tafsir Tahlili Kementerian Agama RI mengonfirmasi bahwa rezeki pada ayat ini adalah seluruh kenikmatan surga untuk orang beriman setelah melewati fase dunia, hari kebangkitan, dan perhitungan amal.

Karunia di akhirat bersifat kekal, berbeda dengan fasilitas dunia yang terbatas.