Kurator Asikin Hasan menjelaskan bahwa teks dan gambar dalam seluruh visual berbagi ruang estetika yang sama namun tidak saling menerangkan secara harfiah.

"GM tidak pernah mengatakan sesuatu itu dengan hal yang kasar, dia bicara pada metafor. Badut itu kan metafora segala hal.

Ya politik, ya apa," kata Asikin Hasan.

Ia menambahkan bahwa coretan spontan dalam sketsa Goenawan Mohamad berhasil mempertahankan kedekatan personal di tengah masifnya digitalisasi seni visual masa kini.

Respons positif juga datang dari seniman Tisna Sanjaya.

>>> Siti KDI Menangis Haru Dapat Kejutan Sederhana dari Elif Saat Kelulusan SD

"Dari karya-karya ekspresi personalnya yang sangat personal, metafor, simponik, saya lihat karyanya dilebarkan menjadi peristiwa kebudayaan, menjadi peristiwa kritis terhadap berbagai hal," ujarnya.