Isu perubahan iklim dan kerusakan lingkungan menjadi perhatian utama generasi muda di berbagai negara.

Survei UNESCO bertajuk The World in 2030 menunjukkan bahwa perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati merupakan tantangan global yang paling dikhawatirkan masyarakat.

>>> FIFA Larang Jersey Timnas Haiti Berunsur Politik di Piala Dunia 2026

Lebih dari separuh responden survei tersebut berasal dari kelompok usia di bawah 35 tahun.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai anak muda memiliki peran penting sebagai penggerak aksi iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Menurut PBB, mobilisasi generasi muda di berbagai belahan dunia menunjukkan kemampuan mereka untuk mendorong perubahan dan mengawal kebijakan publik.

Peneliti Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM, Prof. Djati Mardiatno, mengatakan kondisi tersebut juga terlihat di Indonesia.

Menurutnya, generasi muda memiliki peluang besar untuk memperluas gerakan penyelamatan lingkungan melalui media sosial sekaligus aksi langsung di masyarakat.

"Dengan keaktifan dalam melakukan kampanye secara digital, mereka juga dapat mengadakan gerakan-gerakan secara langsung," ucapnya, dikutip dari laman resmi UGM, Rabu (10/6/2026).

Peran Strategis Generasi Muda

Djati menilai generasi muda merupakan kelompok yang dekat dengan perkembangan teknologi digital. Hal ini membuat mereka memiliki cara yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan-pesan lingkungan.

"Mereka punya peran yang sangat penting karena dengan karakteristik yang dimiliki saat ini, mereka bisa melakukan kegiatan-kegiatan lingkungan dengan lebih efektif dan efisien yang menyesuaikan karakteristik generasi muda saat ini," ungkapnya.

>>> Indeks Bisnis-27 Melemah ke 406,38 pada Perdagangan 11 Juni 2026

Generasi muda juga belajar dari berbagai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini. Kesadaran untuk ikut mengurangi dampak perubahan iklim pun tumbuh.