Nilai tukar rupiah menguat hingga menyentuh posisi Rp17.948 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Kamis (11/6/2026) pagi.

Berdasarkan data Bloombergtechnoz, apresiasi sebesar 0,03 persen ini memperpanjang tren positif mata uang Indonesia selama tiga hari berturut-turut.

>>> Rupiah Melemah Tiga Poin ke Rp 17.947 per Dolar AS pada Kamis Pagi

Namun, rupiah kemudian terkoreksi dan melemah 0,09 persen ke level Rp17.970 per dolar AS.

Kenaikan Suku Bunga BI dan Respons Pasar

Sentimen positif yang menopang penguatan rupiah dipicu oleh langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.

Gubernur BI Perry Warjiyo langsung memimpin konferensi dengan investor dari Amerika Serikat dan Eropa pada Selasa malam untuk menjelaskan keputusan tersebut.

Ia melanjutkan pertemuan serupa dengan investor di Asia pada Rabu pagi.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menegaskan komitmen pemerintah menjaga batas defisit anggaran di hadapan DPR.

Pelaku pasar merespons positif kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamax menjadi Rp16.250 per liter karena dinilai mengurangi beban defisit fiskal.

>>> Timnas Indonesia U-19 Tantang Australia di Semifinal Piala AFF U-19 2026

Kepala Strategi Makro Asia di Sumitomo Mitsui Banking Corp, Jeff Ng, menilai langkah pemerintah Indonesia sudah tepat untuk stabilisasi nilai tukar.

"Kami mulai melihat tanda-tanda awal stabilisasi, tetapi kondisinya masih rapuh," ujar Jeff Ng.

Di sisi lain, kondisi pasar regional tertekan akibat lonjakan harga minyak mentah Brent yang menguat 2,04 persen ke US$95 per barel.

Won Korea Selatan memimpin pelemahan mata uang Asia sebesar 0,4 persen, diikuti dolar Taiwan 0,2 persen, rupiah 0,09 persen, baht Thailand 0,05 persen, yuan China 0,03 persen, dan ringgit Malaysia 0,01 persen.

Sebaliknya, penguatan tercatat pada peso Filipina 0,12 persen, yuan offshore 0,05 persen, yen Jepang 0,03 persen, serta dolar Singapura dan Hong Kong masing-masing 0,02 persen dan 0,01 persen.

>>> Kurs Rupiah Melemah ke Rp 17.947 per Dolar AS pada 11 Juni 2026

Tekanan global masih berlanjut karena indeks dolar AS bertahan di level 99,91 seiring potensi The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat.