Harga minyak mentah jenis Brent melonjak lebih dari 2 persen ke posisi US$ 95,40 per barel menyusul eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kenaikan ini terjadi setelah militer Amerika Serikat mengonfirmasi serangan terhadap beberapa target di wilayah Iran.

>>> Kurs Rupiah Melemah ke Rp 17.958 per Dolar AS pada 11 Juni 2026

Langkah tersebut mengancam prospek perdamaian yang sempat dioptimalkan lewat gencatan senjata sejak awal April.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menegaskan bahwa Washington tidak ragu meluncurkan serangan tambahan jika kesepakatan damai dengan Iran gagal dicapai.

Meski demikian, respons pelaku pasar global tidak sekomparatif eskalasi sebelumnya. Di pasar valuta asing Asia, indeks dolar AS justru turun tipis ke level 99,903.

Mata uang euro ditransaksikan pada US$ 1,1553, menjauhi rekor terendah dalam 10 pekan terakhir. Namun, euro masih kehilangan sebagian momentum penguatan sejak April.

Chief Market Analyst ATFX Global, Nick Twidale, mengatakan bahwa pasar mulai jenuh terhadap berita konflik.

Menurutnya, eskalasi seperti ini beberapa pekan lalu mungkin sudah cukup mendorong Brent menembus US$ 100 per barel dan mengangkat dolar AS secara signifikan.

Twidale menambahkan, investor saat ini lebih membutuhkan kepastian jangka panjang mengenai arah konflik di Timur Tengah, termasuk dampak terhadap potensi penutupan Selat Hormuz.

Selain faktor geopolitik, pasar finansial global menantikan keputusan rapat kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB) yang diprediksi akan kembali menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi.

Fokus investor juga tertuju pada prospek suku bunga AS.

Data terbaru menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS melesat 4,2 persen secara tahunan pada Mei 2026, tertinggi sejak April 2023.