Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (11/6/2026) dan menyentuh posisi terendah dalam lebih dari enam bulan terakhir.

Tekanan terhadap logam mulia ini meningkat signifikan setelah aksi militer terbaru Amerika Serikat ke Iran memicu lonjakan harga minyak global.

>>> Persib Bandung Hadapi Grup Berat di ASEAN Club Championship 2026-2027

Kondisi tersebut memperbesar kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi lonjakan inflasi. Pasar juga mencemaskan kebijakan suku bunga tinggi yang diprediksi bertahan lebih lama.

Harga emas spot terpantau merosot 0,2% ke level US$ 4.063,87 per ons troi pada pukul 00.43 GMT.

Sebelumnya, emas sempat anjlok hingga level terendah sejak 21 November 2025.

Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus juga melemah 1,1% menjadi US$ 4.086,50 per ons troi.

Penurunan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah.

Militer AS dilaporkan meluncurkan serangan udara baru yang menyasar beberapa target di Iran pada Rabu (10/6) malam waktu setempat.

Operasi ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump memberikan ancaman serangan jika kesepakatan damai gagal.

Menanggapi serangan tersebut, Iran langsung mengumumkan penutupan jalur laut strategis di Selat Hormuz.

Kebijakan ini berimplikasi pada lonjakan harga minyak dunia yang meroket lebih dari US$ 2 per barel.

Kenaikan harga minyak yang drastis memperbesar risiko inflasi global akibat pembengkakan biaya energi dan tarif transportasi.

>>> Sentimen Bisnis Jepang Kuartal II-2026 Anjlok Akibat Konflik Timur Tengah

Spekulasi berkembang bahwa bank sentral, khususnya Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi.

Emas kerap digunakan sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi.

Namun, tren kenaikan suku bunga acuan cenderung menggerus daya tarik logam mulia karena statusnya sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.