Nilai tukar rupiah di pasar luar negeri melemah ke level Rp17.955 per dolar AS pada Kamis (11/6/2026) pagi.

Pelemahan sebesar 0,15 persen terjadi pada pukul 07.20 WIB, setelah rupiah sempat membuka perdagangan dengan penguatan terbatas di posisi Rp17.930 per dolar AS.

>>> Kemendikdasmen Integrasikan PIP, PKH, dan KIP Kuliah untuk Bantuan Tepat Sasaran

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul serangan terhadap fasilitas air bersih.

Ketegangan di Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak mentah West Texas Intermediate sebesar 4 persen hingga di atas US$93 per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut menekan mayoritas mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah.

Analis: Volatilitas Harga Minyak Masih Tinggi

Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy, Jorge Leon, mengatakan bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi sangat penting untuk menentukan arah konflik.

Menurut Leon, fluktuasi komoditas energi global diproyeksikan masih dinamis dalam waktu dekat.

>>> Harga Emas Perhiasan 11 Juni 2026 Anjlok, 24 Karat Rp2,28 Juta per Gram

"Volatilitas harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi hingga terdapat bukti yang lebih jelas bahwa gencatan senjata benar-benar bertahan," ujarnya seperti dikutip Bloomberg News.

Sentimen negatif global juga diperparah oleh koreksi massal saham teknologi di Korea Selatan serta kebijakan hawkish Federal Reserve.

Indeks saham negara berkembang MSCI tercatat turun 2,5 persen pada Rabu (10/6).

Secara teknikal, rupiah hari ini masih berpeluang menguat ke target resistansi terdekat pada posisi Rp17.910 hingga Rp17.870 per dolar AS.

>>> Purbaya Yudhi Sadewa Siapkan Strategi Jaga Keberlanjutan APBN

Level psikologis support terkuat berada pada angka Rp18.000 per dolar AS.