Divisi Xbox milik Microsoft berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran bulan depan.

Langkah ini diambil seiring CEO baru Asha Sharma merombak bisnis video game perusahaan untuk membendung penurunan pendapatan.

>>> Kapasitas KRL Green Line Tertinggal, Okupansi Jam Sibuk Tembus 161 Persen

PHK tersebut diperkirakan dilakukan tidak lama setelah penutupan tahun fiskal Microsoft pada 30 Juni. Skalanya belum diketahui secara pasti, menurut sumber yang mengetahui strategi perusahaan.

Xbox juga berencana memangkas besar-besaran anggaran pemasaran dan sejumlah area bisnis lainnya. Juru bicara Xbox menolak berkomentar.

CEO Baru Ingin 'Atur Ulang' Bisnis

Sharma mulai menunjukkan arah kepemimpinannya sejak menjabat CEO Xbox pada Februari.

Ia secara terbuka membahas tantangan organisasi tersebut dan baru-baru ini mengatakan dalam konferensi Bloomberg Tech bahwa dirinya ingin 'mengatur ulang bisnis' yang disebutnya 'tidak berada dalam kondisi sehat.'

Dalam email kepada karyawan pada Rabu yang dilihat Bloomberg dan kemudian dipublikasikan di blog Xbox, Sharma menulis bisnis tersebut telah turun ke 'accountability margin' sebesar 3%.

Metrik ini digunakan Microsoft untuk menggambarkan margin laba.

'Di luar Activision Blizzard King, selama lima tahun terakhir kami telah menghabiskan lebih dari US$20 miliar untuk investasi berkelanjutan pada konten, platform, dan subsidi perangkat keras.

Namun pendapatan tahunan kami turun hampir setengah miliar dolar selama periode tersebut,' tulis Sharma. 'Ke depan, ini tidak bisa terus berlanjut.'

Dulu menjadi raksasa industri video game, Xbox kesulitan tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.

Penjualan perangkat kerasnya anjlok, perusahaan gagal secara konsisten menghadirkan gim hit, dan popularitas layanan berlangganan Game Pass mulai stagnan.

Di bawah tekanan perusahaan induk untuk meningkatkan margin, Xbox selama dua tahun terakhir menutup studio, membatalkan gim, dan menaikkan harga.