Tidak ada yang lebih resmi daripada wasit.

Jika sebuah negara menolak masuknya wasit, ini adalah masalah serius, dan turnamen tidak boleh diselenggarakan di sana," kata Sepp Blatter.

Melalui media Prancis L'Equipe, Blatter juga menyentil kepemimpinan Gianni Infantino yang dianggap terlalu tunduk pada kebijakan mitranya di Gedung Putih.

"Turnamen ini tidak bisa dihentikan sekarang, tetapi hal ini memalukan... FIFA telah mengabaikan prinsip yang tidak dihormati oleh negara tuan rumah," kata Blatter.

Blatter mengimbau federasi sepak bola negara lain untuk ikut melayangkan protes atas pengabaian prinsip dasar federasi tersebut.

>>> FIFA Resmi Perbanyak Peserta Piala Dunia 2026 Jadi 48 Tim

"Presiden saat ini harus menunjukkan bahwa dia lebih kuat dari sahabat karibnya di Gedung Putih.

Ketika Anda mulai membiarkan politik mengendalikan Anda, itu hal yang buruk, dan federasi-federasi lain juga harus memprotes," tegas Blatter.

Meskipun mengkritik keras jalannya organisasi saat ini, Blatter mengaku tetap akan menikmati pertandingan melalui layar kaca dari kediamannya.

"Saya tidak lagi memiliki seluruh kemampuan gerak saya, tapi saya masih memiliki sebagian akal sense saya.

Saya baik-baik saja, saya bahagia, saya memiliki televisi sebesar lapangan sepak bola dan akan menonton Piala Dunia, karena sepak bola adalah hidup saya," canda Blatter.

Blatter menutup pernyataannya dengan pasrah mengingat usianya yang kini telah menginjak 90 tahun.

"Saya tidak selalu puas dengan apa yang terjadi, tapi saya tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengubah apa pun," pungkasnya.

Klarifikasi Pemerintah AS dan Dampak Lain

Pihak berwenang AS melalui laporan The Athletic memberikan klarifikasi resmi mengenai penahanan dan deportasi cepat terhadap Omar Artan.