PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kementerian Perhubungan terus mematangkan persiapan operasional Stasiun Jakarta International Stadium (JIS) di Jakarta Utara.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana sebelum stasiun tersebut resmi melayani penumpang.

>>> Tiga Fakta Menarik Mengiringi Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Pemerintah awalnya menargetkan stasiun beroperasi pada April 2026, namun kemudian diundur menjadi Juni 2026.

Pihak KAI belum bisa memastikan tanggal pasti pembukaan perdana stasiun yang dibangun sejak 2023 tersebut.

"SPM (standar pelayanan minimal) dan safety induction lagi dicek. Pokoknya kalau sudah selesai, nanti akan disampaikan," ujar Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba.

Dukungan Elektrifikasi dan Jalur Ganda

Pengoperasian infrastruktur yang dibangun oleh Pemprov DKI Jakarta ini didukung program elektrifikasi dan pembangunan jalur ganda sepanjang 8,115 kilometer lintas Jakarta Kota hingga Tanjung Priok.

Volume pengguna KRL di rute Tanjung Priok terus menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

>>> Sjafrie Sjamsoeddin Ajukan Tambahan Anggaran Kemenhan Rp 195 Triliun

Berdasarkan data KAI, jumlah penumpang tercatat sebanyak 1.599.107 orang pada 2022, lalu meningkat menjadi 2.676.363 orang pada 2023, dan mencapai 3.377.633 orang pada 2024.

Pertumbuhan berlanjut pada 2025 dengan total 3.531.311 pengguna, sementara pada periode Januari hingga Maret 2026 telah menyentuh angka 873.658 orang.

Kehadiran stasiun baru yang terletak tepat di depan stadion ini diharapkan mempermudah akses masyarakat menuju kawasan olahraga dan pemukiman secara langsung.

Stasiun ini juga diharapkan meminimalisir kemacetan serta kecelakaan di area Tanjung Priok.

Saat ini, penumpang kereta terdekat harus turun di Stasiun Ancol atau Stasiun Tanjung Priok.

>>> Produk Kecantikan Indonesia Raih Potensi Transaksi Rp 106 Miliar di Turki

Rute ini nantinya akan terintegrasi langsung dengan Stasiun Kota, sehingga pengguna jasa memiliki alternatif moda transportasi selain Jaklingko, mikrotrans, maupun layanan angkutan online.