"Landasan proyeksi ini mencerminkan kondisi pasar yang mengalami defisit pasokan akibat hambatan logistik di Selat Hormuz serta penurunan konsisten cadangan minyak komersial negara-negara OECD ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir," kata Sutopo.

Namun, hambatan terhadap lonjakan harga tetap ada seiring melambatnya pertumbuhan konsumsi energi global.

Faktor pemicunya adalah tingginya harga bahan bakar di tingkat hilir dan melemahnya aktivitas ekonomi di berbagai negara.

Indikator Pasar dan Risiko Geopolitik

Dalam jangka pendek, pelaku pasar disarankan memperhatikan sejumlah indikator penting.

Data yang perlu dicermati meliputi inflasi konsumen (CPI), ketenagakerjaan AS, laporan persediaan mingguan dari American Petroleum Institute (API), serta Energy Information Administration (EIA).

Sentimen pasar dalam beberapa bulan mendatang juga akan dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan produksi OPEC+.

Di sisi lain, perubahan arah harga yang drastis berpotensi bersumber dari dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Jika konflik meluas hingga mengganggu jalur kapal tanker di Selat Hormuz, harga Brent berpeluang melonjak menembus US$ 110 per barel.

>>> AS Masukkan BYD dan Perusahaan China ke Daftar Hitam karena Tuduhan Dukung Militer

Sebaliknya, apabila ketegangan mereda lewat jalur diplomatik, premi risiko geopolitik dapat hilang cepat sehingga pasar kembali fokus pada perlambatan permintaan.