Nilai tukar rupiah mencatat penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (10/6/2026).

Berdasarkan data TradingView, mata uang Garuda menguat sebesar 1,08 persen ke level Rp17.940 per dolar AS.

>>> Bahlil Minta Kekurangan Program Makan Bergizi Gratis Diperbaiki Bersama

Penguatan ini terjadi di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia, seperti yen Jepang, yuan China, dan dolar Singapura.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan bahwa lonjakan rupiah dipicu oleh optimisme terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia.

Kenaikan suku bunga acuan BI Rate dan penyesuaian harga Pertamax dinilai menjadi pendorong utama stabilitas eksternal.

>>> Puluhan Ribu Penerima PIP Lolos SNBT dan SNBP 2026, Berhak Dapat KIP Kuliah

Lukman menambahkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi memperbaiki keseimbangan eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi.

Tren positif ini diproyeksikan berlanjut jika tidak ada tekanan eksternal berat, seperti gejolak Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak.

Namun, rilis data inflasi AS dan data penjualan ritel domestik April 2026 berisiko membatasi apresiasi rupiah.

>>> Kejagung Tetapkan Mantan Kepala BGN Tersangka Korupsi Motor Listrik

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.000 pada perdagangan Kamis (11/6/2026).