Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa 17,6 persen dari seluruh situs web yang baru diterbitkan kini sepenuhnya dibuat oleh kecerdasan buatan (AI).

Riset ini dilakukan oleh peneliti dari Imperial College London, Stanford University, dan Internet Archive, seperti dilansir dari Tekno.

>>> Timnas Indonesia Kalahkan Mozambik 1-0, Peringkat FIFA Naik ke 118

Angka tersebut memberikan bukti awal terhadap gagasan Dead Internet Theory, yang menyebut internet modern lebih banyak diisi oleh bot dan konten buatan mesin.

Data dikumpulkan oleh Wayback Machine milik Internet Archive sejak akhir 2022 hingga pertengahan 2025, bertepatan dengan demam AI pasca peluncuran ChatGPT.

Temuan ini diperkuat laporan Cloudflare pada September 2025 yang menyatakan hampir sepertiga lalu lintas internet digerakkan oleh bot.

Perusahaan keamanan Imperva juga mencatat aktivitas otomatis di internet telah melampaui aktivitas manusia pada 2024, menyumbang sekitar setengah dari seluruh lalu lintas web.

CEO Cloudflare Matthew Prince mengatakan AI akan mengubah cara informasi disebarkan secara online dan berpotensi memusatkan kendali atas pengetahuan digital di tangan segelintir perusahaan teknologi besar.

Pemanfaatan AI dan Dampaknya pada Konten

Para penipu kini memanfaatkan AI untuk membuat situs web palsu secara cepat demi mengelabui korban.

>>> Kenaikan Suku Bunga BI Tekan Properti Non-Subsidi

AI juga digunakan untuk menjiplak konten organisasi berita serta membuat situs sampah demi mengumpulkan trafik mesin pencari atau SEO-farming.

Laporan Model Republic mengklaim sebuah situs web yang terhubung dengan kelompok pendukung OpenAI menerbitkan gelombang artikel berita hasil AI untuk menyerang pengkritik produk AI.

Meski begitu, peneliti menemukan konten buatan AI tidak sesering yang dikhawatirkan mengandung kesalahan fakta.

Konten tersebut tetap mencantumkan sumber melalui tautan eksternal dan tidak menghapus gaya penulisan individu.

Dampak negatif yang terbukti adalah berkurangnya keberagaman ide dan sudut pandang, serta tulisan yang terasa steril dan ceria secara artifisial.

CEO OpenAI Sam Altman pernah mengakui fenomena kepositifan palsu ini setelah perusahaannya merilis agen coding AI bernama Codex.

>>> Borneo FC Samarinda Resmi Lepas Mariano Peralta ke Persija Jakarta

Para peneliti menyebut studi ini baru sebagai titik awal dan tengah mengembangkan alat pemantau berkelanjutan untuk mengidentifikasi kategori situs yang paling terdampak.