Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Keputusan ini diambil dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari risiko tekanan eksternal.

>>> China Siapkan Rp5.293 Triliun Bangun Pusat Data AI Global

Kenaikan BI Rate diumumkan pada Rabu (10/6/2026).

Langkah ini juga diikuti dengan peningkatan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50 persen dan Lending Facility sebesar 6,25 persen.

Kebijakan moneter ini dinilai esensial untuk mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik. Pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran lonjakan inflasi barang impor.

Dampak tersebut menyasar sektor-sektor yang bergantung pada bahan baku serta komponen dari luar negeri.

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Myrdal Gunarto berharap langkah stabilisasi ini dapat mempercepat penyesuaian pasar sekaligus mengendalikan ekspektasi inflasi.

"Di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global, terutama akibat eskalasi ketegangan geopolitik dan pergeseran arus modal internasional, penguatan bauran kebijakan moneter diharapkan dapat menjaga daya tarik aset keuangan domestik sekaligus memperkuat kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia," kata Myrdal dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/6/2026).

>>> KABAR DUKA! Kim Yoon Seol Kontestan Sing Again 4 pada 7 Juni 2026

Myrdal menambahkan bahwa fundamental ekonomi nasional masih kokoh. Hal ini ditopang sektor pembangunan infrastruktur, perumahan, ketahanan pangan, energi, hilirisasi, hingga ekspor sumber daya alam.

Pertumbuhan ekonomi tahun ini diproyeksikan mencapai 5,2 persen dengan dukungan investasi dan intermediasi perbankan yang terjaga.

Kenaikan BI Rate diprediksi memberikan tekanan bagi sektor yang sensitif terhadap biaya pendanaan dan daya beli masyarakat.

"Keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi akan tetap menjadi faktor penting dalam arah kebijakan moneter ke depan," terang Myrdal.

Penyesuaian suku bunga acuan ke depan bakal bergantung pada pergerakan nilai tukar rupiah, inflasi, arus modal asing, serta dinamika ekonomi global.

>>> Persib Bandung Terancam Kehilangan Banyak Pemain Usai Juara

BI akan mempertahankan fleksibilitas kebijakan sesuai kondisi pasar.