Kemenperin Kaji Dampak Kenaikan Harga Pertamax terhadap Industri Manufaktur
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah mengkaji dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi jenis Pertamax terhadap aktivitas sektor manufaktur.
Harga Pertamax naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, memicu perhatian pada sektor industri.
>>> Para Investor SPPG Wilayah 3T Datangi BGN, Pertanyakan Kepastian Operasional Dapur MBG
Pemerintah menyoroti potensi lonjakan beban operasional, khususnya pada biaya pengiriman bahan baku serta rantai distribusi produk.
Pengawasan ketat akan dilakukan untuk menghitung secara rinci imbas dari kebijakan penyesuaian harga tersebut.
Evaluasi Dampak pada Biaya Pengiriman
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengatakan pihaknya akan mencermati pengaruh kenaikan harga terhadap biaya pengiriman barang untuk bahan baku dan produk manufaktur.
"Nanti kami lihat, mungkin ada pengaruhnya ke biaya pengiriman barang untuk bahan baku, atau pada produk manufaktur. Ketika dikirimkan dari industri ke distributor, ke ritel.
Itu kami nanti cermati dulu untuk yang kenaikan harga baru-baru ini," kata Febri saat ditemui di kompleks DPR RI Senayan, Jakarta Pusat.
Evaluasi menyeluruh tetap menempatkan pergerakan harga BBM bersubsidi sebagai faktor paling krusial bagi stabilitas industri tanah air.
>>> Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Diprediksi Picu Lonjakan Konsumsi Pertalite
Kebijakan pemerintah mempertahankan tarif komoditas bersubsidi tersebut mendapat apresiasi karena menjaga tingkat inflasi tetap stabil.
"Tapi yang kami cermati itu, harga BBM subsidi itu belum naik dan itu diapresiasi industri karena itu membuat demand industri masih tetap terjaga dengan baik," tutur Febri.
Sektor domestik sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga sebagai penggerak utama permintaan pasar untuk produk-produk manufaktur.
Oleh karena itu, ketahanan daya beli masyarakat dinilai berkaitan erat dengan kebijakan harga energi yang diatur pemerintah.
"Karena harga BBM subsidi itu berdampak tidak langsung terhadap kenaikan harga-harga produk manufaktur dan daya beli masyarakat.
>>> Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen pada 2027
Kalau seandainya ada kenaikan harga BBM subsidi, maka itu akan menekan daya beli masyarakat dan sekaligus menekan demand produk manufaktur," tutup Febri.
Update Terbaru
Manchester United Rilis Jadwal Pramusim 2026, Hadapi Atletico hingga PSG
Rabu / 10-06-2026, 15:53 WIB
Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.940 per Dolar AS, Didorong Sentimen Positif
Rabu / 10-06-2026, 15:53 WIB
Marc Marquez Jalani Operasi Ganda Usai Kecelakaan di MotoGP Prancis
Rabu / 10-06-2026, 15:53 WIB
Bahlil Minta Kekurangan Program Makan Bergizi Gratis Diperbaiki Bersama
Rabu / 10-06-2026, 15:52 WIB
Puluhan Ribu Penerima PIP Lolos SNBT dan SNBP 2026, Berhak Dapat KIP Kuliah
Rabu / 10-06-2026, 15:52 WIB
Kejagung Tetapkan Mantan Kepala BGN Tersangka Korupsi Motor Listrik
Rabu / 10-06-2026, 15:52 WIB
Atap Bocor Bisa Sebabkan Rangka Baja Ringan Berkarat dan Ambruk
Rabu / 10-06-2026, 15:52 WIB
Pertamina Luncurkan Kapal Pembersih Sampah Otomatis di Bali
Rabu / 10-06-2026, 15:51 WIB
Harga BBM Pertamina 10 Juni 2026: Pertamax dan Pertamax Green 95 Naik Signifikan
Rabu / 10-06-2026, 15:50 WIB
PT Menthobi Karyatama Raya Tbk Targetkan Penjualan Rp1,390 Triliun pada 2026
Rabu / 10-06-2026, 15:50 WIB
Video Viral Rekam Objek Terbang Misterius di Area 51 Nevada
Rabu / 10-06-2026, 15:49 WIB
Psikolog Ungkap Ciri Kepribadian Orang yang Enggan Berbagi Makanan
Rabu / 10-06-2026, 15:49 WIB
BPJS Kesehatan Tekor Rp2 Triliun per Bulan, Terancam Gagal Bayar Juli 2027
Rabu / 10-06-2026, 15:49 WIB
OJK Beri Izin Usaha Pialang Asuransi untuk PT Sukses Utama Sejahtera
Rabu / 10-06-2026, 15:48 WIB






