Keputusan pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green diprediksi akan memicu pergeseran konsumsi masyarakat ke BBM subsidi, yaitu Pertalite.

Harga Pertamax naik menjadi Rp 16.250 per liter, sementara Pertamax Green menjadi Rp 17.000 per liter.

>>> Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen pada 2027

Kenaikan ini dipicu oleh tingginya harga minyak mentah global (MOPS) dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai pergeseran konsumsi tidak bisa dihindari akibat selisih harga yang semakin lebar.

"Akan masif, sehingga perlu dipastikan ketersediaan pasokan supaya tidak terjadi antrian panjang yang berdampak psikologis dan berpotensi menimbulkan kepanikan.

Selain itu, perlu perbaikan tata kelola untuk menekan subsidi salah sasaran," ujarnya kepada Kontan. co.

id, Rabu (10/6/2026).

Menurut Wijayanto, kebijakan ini menunjukkan pemerintah mulai bersikap realistis dalam mengelola anggaran negara di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan penerimaan negara yang tidak optimal.

"Pemerintah makin realistis, terutama terkait potensi penerimaan negara yang tidak sebesar yang diperkirakan, potensi konflik Iran berkepanjangan yang menyebabkan harga minyak dunia tetap tinggi, dan tren pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut," ungkapnya.

Wijayanto memaparkan bahwa indikator makro ekonomi dan kinerja fiskal domestik menjadi faktor penentu di balik penyesuaian harga energi ini.

Kenaikan penerimaan negara yang sempat terjadi di awal tahun ternyata belum mampu menopang beban kompensasi energi secara berkelanjutan.

>>> Kenaikan Harga Pertamax Berpotensi Tingkatkan Subsidi Pertalite

"Keduanya merupakan faktor utama, termasuk juga potensi kenaikan penerimaan negara yang ternyata tidak sebaik yang diperkirakan.

Walaupun Januari-Mei naik, tetapi sebenarnya stagnan jika dibanding periode yang sama tahun 2025, dan justru lebih rendah dari 2024," katanya.