Studi Ungkap Alasan Galaksi Raksasa Berhenti Memproduksi Bintang
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rasio ini memuncak secara tajam pada galaksi dengan massa total antara 10^12,4 dan 10^12,7 massa matahari.
Di bawah rentang itu, galaksi mampu mengubah gas menjadi bintang secepat gas tersebut masuk.
>>> XLSmart Raih Penghargaan Jaringan 5G Tercepat di Selular Award 2026
Namun, efisiensi pembentukan bintang langsung merosot drastis hingga lebih dari tiga kali lipat begitu melewati batas kritis tersebut.
Teori Mishra menjelaskan bahwa gas yang jatuh ke dalam galaksi akan mengalami pemanasan kejut (shock-heated) saat galaksi tumbuh.
Gas pada galaksi yang lebih kecil akan mendingin dengan cepat. Kondisi ini membuat gas terus jatuh ke dalam galaksi untuk memberi makan pembentukan bintang baru.
Sebaliknya, halo gas panas di sekeliling galaksi menjadi sangat padat dan cukup panas untuk menahan diri dari tarikan gravitasi selama miliaran tahun begitu melewati massa kritis.
Akibatnya, gas tidak bisa mendingin dengan cepat dan pasokan bahan bakar mendadak terputus.
Galaksi mungkin masih bisa melahap materi gelap atau menarik galaksi satelit di sekitarnya. Namun, aliran gas dingin yang menjadi bahan utama pembuat bintang baru telah berhenti sepenuhnya.
Bantahan terhadap Teori Kehilangan Materi
Melalui studi ini, tim peneliti juga membantah teori pesaing mengenai penyebab penurunan pertumbuhan galaksi.
Teori lain menyebutkan bahwa penurunan disebabkan oleh hilangnya materi normal akibat semburan supernova atau lubang hitam aktif.
Berdasarkan kalkulasi data simulasi, variasi kehilangan materi tersebut tidak lebih dari 30 persen.
Angka ini dinilai tidak cukup kuat untuk menjelaskan penurunan efisiensi pembentukan bintang yang anjlok hingga sepertiganya.
Perubahan penentu yang sebenarnya terjadi pada sisi aliran gas yang masuk (inflow), bukan gas yang keluar (outflow).
Hasil simulasi Horizon Run 5 ini masih perlu diuji dan diselaraskan kembali dengan survei teleskop masa depan pada gugus galaksi nyata.
Meskipun demikian, penelitian ini berhasil mengaitkan pola pengamatan ruang angkasa yang terkenal dengan satu mekanisme fisik yang spesifik.
>>> Astronom Temukan Angin Kosmik Tercepat di Dekat Lubang Hitam J2318
Sederhananya, galaksi raksasa berhenti tumbuh karena lingkaran halo gas panas di sekeliling mereka telah mampu menopang dirinya sendiri secara mandiri.
Update Terbaru
Pertamina Naikkan Harga Pertamax Green 95 Jadi Rp17.000 per Liter
Rabu / 10-06-2026, 16:50 WIB
Pertamina Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp16.250 Per Liter per 10 Juni 2026
Rabu / 10-06-2026, 16:50 WIB
12 Amalan Sunnah di Bulan Muharram, dari Puasa hingga Sedekah
Rabu / 10-06-2026, 16:49 WIB
Kenaikan Pertamax Green 95 Menguras Kantong Pemilik Vespa Modern
Rabu / 10-06-2026, 16:49 WIB
Byeon Woo-seok Gelar Fan Meeting The Secret Library di Jakarta 7 November
Rabu / 10-06-2026, 16:49 WIB
Filipina Desak China Singkirkan Struktur Terapung di Scarborough Shoal
Rabu / 10-06-2026, 16:48 WIB
Rupiah Menguat ke Rp17.944 Per Dolar AS Pascakenaikan Suku Bunga
Rabu / 10-06-2026, 16:48 WIB
Gelombang Lokal 2026: Wadah Musisi Independen di Malang
Rabu / 10-06-2026, 16:48 WIB
Nindya Karya Bangun Sekolah Rakyat Trenggalek dengan Sentuhan Arsitektur Majapahit
Rabu / 10-06-2026, 16:48 WIB
Daftar iPhone yang Kompatibel dengan Apple Intelligence di iOS 27
Rabu / 10-06-2026, 16:45 WIB
175 Platform Digital Sudah Diperiksa Komdigi, Netflix Shopee dan PUBG Termasuk
Rabu / 10-06-2026, 16:44 WIB
Kisah Raihan Yusuf Tembus Tiga PTN Favorit dan Tips Belajarnya
Rabu / 10-06-2026, 16:44 WIB
Apple Batasi Fitur Apple Intelligence di iOS 27 Hanya untuk Varian Tertentu
Rabu / 10-06-2026, 16:44 WIB
OJK Wajibkan Spin Off Unit Usaha Syariah Asuransi Akhir 2026
Rabu / 10-06-2026, 16:44 WIB






