Pertumbuhan galaksi di alam semesta ternyata memiliki batas waktu.

Galaksi yang awalnya sangat aktif memproduksi bintang baru akan mengalami pelambatan, mandek, hingga akhirnya memasuki masa pensiun yang sunyi.

>>> Maye Musk Cerita Kecerdasan Elon Musk Sejak Usia 3 Tahun di Acara JPMorgan

Sebuah studi terbaru yang dipimpin Preetish Mishra dari Korea Institute for Advanced Study bersama tim ilmuwan internasional menawarkan jawaban yang jelas mengenai misteri fisik di balik berhentinya pertumbuhan tersebut.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa pelambatan pertumbuhan galaksi dipicu oleh kemunculan awan gas panas yang stabil di sekelilingnya.

Fenomena unik ini terbentuk pada skala massa yang sangat spesifik, yaitu sekitar 10^12,5 kali massa matahari.

Ketika berada di atas ambang batas massa tersebut, galaksi secara otomatis berhenti menjadi pabrik bintang yang efisien.

Proses ini tetap terjadi tidak peduli seberapa banyak bahan baku yang dimiliki oleh galaksi tersebut.

Tim peneliti memanfaatkan Horizon Run 5 untuk mencapai kesimpulan tersebut. Teknologi ini merupakan salah satu simulasi kosmologis terbesar yang pernah dibuat oleh manusia.

Horizon Run 5 memodelkan seluruh hukum fisika gas, gravitasi, pembentukan bintang, supernova, hingga lubang hitam supermasif.

Model simulasi ini mencakup lini masa dari era sesaat setelah Big Bang hingga hari ini.

Melalui teknologi canggih ini, para ilmuwan mengamati sejarah kehidupan sekitar 20.000 galaksi pusat yang paling masif.

Indikator utama yang dilacak adalah rasio massa bintang terhadap massa total galaksi.

Metrik tersebut digunakan untuk mengukur efisiensi galaksi dalam mengubah seluruh anggarannya menjadi bintang. Anggaran yang dimaksud meliputi gas, materi gelap, hingga lubang hitam.

Batas Kritis Massa Galaksi