>>> IHSG Melonjak 134 Poin di Tengah Pelemahan Bursa Asia

Itu memberi ruang untuk penyesuaian harga yang lebih besar jika infrastruktur energi, rute pengiriman, atau keterlibatan AS meningkat," kata Charu Chanana.

Tekanan inflasi yang tinggi di AS berpotensi membuat kebijakan moneter Bank Sentral AS menjadi sangat ketat.

"Jika CPI hari ini tinggi, akan jauh lebih sulit bagi Fed untuk terdengar santai minggu depan," kata Charu Chanana.

Menurutnya, Bank Sentral AS tidak akan bisa mengabaikan ekspektasi inflasi yang ada jika harga minyak dunia terus merangkak naik.

"Bank Sentral AS (Fed) mungkin tidak dapat menaikkan suku bunga secara agresif dalam menghadapi guncangan pasokan murni, tetapi mereka juga tidak dapat mengabaikan ekspektasi inflasi jika harga minyak terus naik," kata Charu Chanana.

Kondisi pasar keuangan global saat ini juga membuat ruang gerak para investor menjadi semakin sempit.

"Pasar biasanya dapat menyerap gejolak geopolitik dengan cukup baik ketika harga energi tetap terkendali," kata Anthony Saglimbene, kepala strategi pasar di Ameriprise.

Sentimen negatif akumulatif ini dinilai menjadi risiko utama yang kini sedang berkembang secara nyata di pasar finansial.

"Pasar memiliki ruang gerak yang lebih terbatas ketika harga minyak, data inflasi, dan kebijakan Fed semuanya condong ke arah yang kurang mendukung saham dalam jangka pendek.

Inilah risiko yang kami lihat sedang berkembang di pasar saat ini," kata Anthony Saglimbene.

Dampak depresiasi mata uang akibat situasi ini memicu Bank Indonesia melakukan langkah darurat dengan menaikkan suku bunga acuan dalam pertemuan di luar siklus untuk menopang nilai tukar rupiah.

>>> Jadwal Semifinal Piala AFF U-19 2026: Indonesia vs Australia

Di sisi lain, harga emas internasional merosot 2% ke level US$ 4.174,20 per ons troi yang merupakan angka terendah dalam 11 minggu terakhir.