Pasar saham Asia mengalami kejatuhan tajam pada perdagangan Rabu (10/6/2026) tengah hari.

Lonjakan harga minyak global akibat eskalasi konflik militer antara Iran dan Amerika Serikat menjadi pemicu utama.

>>> Zoho Luncurkan Platform Server Rakitan Dalam Negeri Bernama Nathu La

Ketegangan geopolitik baru ini terjadi di tengah penantian investor terhadap rilis data inflasi Amerika Serikat yang krusial bagi arah suku bunga acuan dunia.

Penurunan terdalam dipimpin oleh indeks acuan MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang yang merosot sekitar 3%.

Indeks Nikkei Jepang melemah 2%, sementara KOSPI Korea Selatan jatuh hampir 7% akibat tekanan pada saham teknologi dan kecerdasan buatan.

Konflik Iran-AS Memanas

Garda Revolusi Iran menyatakan tindakan tersebut merupakan balasan atas serangan Amerika di sekitar Selat Hormuz.

Pihak militer AS mengonfirmasi serangan balasan yang menyasar pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan situs radar Iran setelah jatuhnya helikopter Apache milik AS.

Lonjakan harga komoditas energi langsung terjadi.

Kontrak berjangka minyak Brent naik 0,7% ke posisi US$ 92,08 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,6% menjadi US$ 88,73 per barel.

Pakar finansial menilai pergerakan komoditas ini masih berupa respons spontan terhadap berita utama dan belum menjadi guncangan makro penuh.

"Geopolitik diperlakukan sebagai risiko berita headlines, bukan guncangan makro untuk saat ini," kata Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo di Singapura.

Pasar minyak yang bertahan di kisaran angka tersebut mengindikasikan pelaku pasar belum memperhitungkan risiko gangguan pasokan jangka panjang.

"Harga minyak bertahan di sekitar $90 meskipun ada berita utama baru tentang Iran menunjukkan bahwa pasar tidak memperkirakan gangguan pasokan yang berkelanjutan.