Putri menambahkan, pelebaran spread antara BI Rate dan yield SBN tenor 10 tahun yang terjadi saat ini juga mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor.

Ia menjelaskan, secara normal yield SBN tenor panjang memang memiliki spread terhadap BI Rate sebagai kompensasi atas risiko durasi, inflasi, dan ketidakpastian jangka panjang.

Namun dalam kondisi saat ini, spread yang lebih lebar menunjukkan pasar meminta premi risiko yang lebih tinggi dibandingkan biasanya.

"Jadi bukan berarti pasar kehilangan kepercayaan sepenuhnya, tetapi lebih mencerminkan sikap investor yang lebih berhati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian," katanya.

Ke depan, prospek yield SBN tenor 10 tahun masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan sentimen global, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kejelasan arah kebijakan ekonomi domestik.

Menurut Putri, apabila tekanan global mereda, rupiah kembali stabil atau menguat, dan komunikasi kebijakan fiskal maupun moneter semakin jelas, maka yield SBN berpeluang turun dari level saat ini.

>>> Apple Resmi Luncurkan iOS 27 dengan Peningkatan Kinerja dan AI Baru

Sebaliknya, jika ketidakpastian global dan domestik masih berlanjut, yield berpotensi bertahan pada level tinggi karena investor tetap meminta kompensasi risiko yang lebih besar.