Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menilai industri smelter di Indonesia justru mengalami tekanan biaya produksi dan kenaikan harga bijih di tengah tren bullish harga logam dasar.

Ketua Umum FINI Arif Perdanakusumah mengatakan harga nikel di London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Metals Market (SMM) memang naik, dipengaruhi pemangkasan produksi Indonesia dan revisi formula harga patokan mineral (HPM) nikel.

>>> Biznet Tetap Perluas Jaringan Fiber Optik di Tengah Kenaikan Harga Bahan Baku

Namun, Arif menegaskan industri smelter nikel saat ini memikul beban ganda dari kenaikan biaya energi dan harga bijih akibat formula HPM baru.

"Jadi kita harus melihatnya secara holistik, tidak hanya dari kenaikan harga komoditas yang lebih dipicu sentimen sesaat dan kekurangan pasokan, tetapi tidak melihat isu secara keseluruhan dari sisi biaya produksi," kata Arif di sela Indonesia Critical Mineral Conference.

Dampak HPM Baru dan Biaya Energi

Smelter nikel pirometalurgi (RKEF) menanggung kenaikan biaya energi dari melonjaknya harga solar industri dan batu bara.

Formula HPM baru yang mengerek harga bijih nikel menambah biaya operasional hingga US$600 per ton.

Sementara itu, smelter hidrometalurgi (HPAL) mengalami kenaikan biaya operasional sebesar US$2.400–US$2.600 per ton sejak HPM baru diterapkan.

Smelter HPAL juga terbebani lonjakan harga sulfur yang naik berkali-kali lipat.

"Margin pelaku usaha HPAL sudah sangat rentan. Jangan sampai kebijakan fiskal jangka pendek memperburuk kondisi ini," tegas Arif.

Proyeksi Harga Bijih dan Dampak Sulfur

SMM memprediksi harga bijih nikel kadar rendah Indonesia melonjak hingga US$48,18 per wet metric ton (wmt) setelah revisi HPM yang turut menghitung mineral bawaan.

HPM baru untuk bijih nikel kadar 1,2% diprediksi naik 151% menjadi US$40,18/wmt, dibandingkan HPM lama sekitar US$16–US$17 per wmt.