Pakar energi memprediksi subsidi Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) atau Pertalite bakal melebihi kuota yang ditetapkan sebesar 29,26 juta kiloliter (kl).

Hal ini dipicu oleh migrasi konsumsi dari Pertamax yang harganya baru saja dinaikkan dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter.

>>> Uji Kejelian Mata dengan 7 Tantangan Cari Angka Tersembunyi

Pakar energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi berpendapat disparitas harga antara Pertalite dengan Pertamax yang mencapai Rp6.250/liter saat ini berpotensi membuat masyarakat lebih memilih BBM bersubsidi.

Jika situasi tersebut terjadi, dia memprediksi beban anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk kompensasi dan subsidi energi berisiko membengkak.

“Dampak lain migrasi dari Pertamax ke Pertalite akan meningkatkan kuota Pertalite.

Kalau tidak ada penambahan kuota Pertalite pascakenaikan harga Pertamax, kelangkaan Pertalite akan terjadi hingga antrean di SPBU mengular.

Kelangkaan itu bisa memicu masalah sosial, yang mengganggu stabilitas negara,” kata Fahmy dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6/2026).

Ekonom Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Badiul Hadi berpandangan terdapat potensi migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite gegara kenaikan harga pada Juni ini.

“Jika ada 10%—15% saja pengguna Pertamax pindah ke Pertalite, maka beban subsidi dapat naik signifikan.

Ironisnya, kebijakan yang dimaksudkan untuk mengurangi tekanan fiskal, justru bisa menciptakan tekanan baru, apalagi kalau terjadi migrasi besar-besaran,” kata Badiul ketika dihubungi, Rabu (10/6/2026).

Kenaikan Harga Pertamax dan Dampaknya

PT Pertamina Patra Niaga (PPN) mengumumkan kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300/liter menjadi Rp16.250/liter setelah berkoordinasi dengan pemerintah dan mengevaluasi harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menjelaskan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengikuti aturan yang berlaku.