Pengakuan ini memicu lonjakan permintaan baik melalui jalur perdagangan konvensional maupun digital.

"Semakin dikenal, terus akhirnya berpengaruh ke omzet kita.

Kita jadi bisa tambah karyawan, kita bisa jual ke luar negeri, akhirnya kita bisa jadi bagian dari sektor real di daerah kita.

Kita bisa merekrut tenaga kerja baru dengan jumlah yang lumayan," ucapnya.

>>> POCO Kembali Hadirkan Smartphone Flagship F8 Ultra di Indonesia

Sebelum mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat, komoditas ini belum dikenal secara luas oleh publik.

Fasilitas promosi kementerian terbukti melipatgandakan kapasitas produksi harian manufaktur lokal tersebut.

"Jadi antusiasme untuk toko offline semakin banyak, yang tadinya mungkin mereka tidak tahu tentang gitar JR Sanjaya. Kalau produksi sekitar dua kali lipat lah peningkatannya.

Jadi kunjungan Pak Mendag jadi validasi, ternyata produk-produk lokal khususnya UMKM lokal punya daya saing dan bisa naik kelas," tutur Didi.

Usaha kerajinan instrumen musik ini pada awalnya dirintis pada tahun 2017 oleh pasangan suami istri Didi Marianto dan Ernawati.

Permodalan awal operasional bisnis didapatkan melalui pemanfaatan program pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

"Waktu itu ada program pemerintah KUR, kita punya sepeda motor 1 Mio, itu bisa bantu kita. Alhamdulillahnya bisa jalan (usahanya) sampai sekarang," tutur Didi.

Perjalanan bisnis ini sempat menghadapi tantangan berat akibat krisis ekonomi global yang dipicu oleh penyebaran virus COVID-19 beberapa tahun lalu.

Sinergi pemasaran dengan jaringan distributor di luar wilayah kemudian menjadi titik balik penyelamatan usaha.

"Saya tahu pertolongan Allah itu memang nyata, tiba-tiba saya ada temen yang di Tangerang, 'Er jualan apa?'

saya bilang 'saya jualan gitar', saya masuk di situ bisa suplai ke seluruh wilayah Jakarta dan di luar pulau," ucap Erna.