Indikator pada dasbor mungkin memperlihatkan status penuh, namun kapasitas energi riil yang tersimpan sebenarnya tidak sesuai.

Selain masalah indikator, pemilik kendaraan juga akan merasakan penurunan performa jelajah mobil yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan kondisi saat mobil baru keluar dari dealer.

Penurunan ini umumnya terjadi seiring waktu dan pola pengisian daya.

Yogig menambahkan bahwa penurunan jarak tempuh dalam sekali pengisian daya hingga penuh menjadi sinyal kuat bahwa kondisi baterai kendaraan sudah tidak balance lagi.

Sebagai ilustrasi, sebuah mobil listrik yang awalnya mampu menempuh jarak ratusan kilometer bisa mengalami penurunan kemampuan jarak jelajah secara drastis setelah digunakan selama beberapa tahun.

"Mobil A kalo di cas penuh bisa nempuh jarak 300 km.

Setelah 2 tahun dipakai, sering fast charging, baterai tidak balance beberapa volt naik turun, sekarang sekali cas sampai penuh cuma bisa nempuh jarak 200-250 km," kata Yogig.

Guna mengantisipasi hal tersebut, para pemilik kendaraan ramah lingkungan ini sangat disarankan untuk melakukan pengecekan kondisi kesehatan baterai secara berkala.

Deteksi dini terhadap perbedaan voltase sel baterai dapat mencegah penurunan performa mobil secara drastis.

>>> Harga BBM Pertamina Naik per 10 Juni 2026, Pertamax Jadi Rp 16.250

Langkah perawatan balancing secara rutin tidak hanya menjaga presisi data pada sistem BMS, tetapi juga memastikan efisiensi kerja baterai tetap berada pada level tertinggi agar daya tampung energi kendaraan selalu terjaga.