Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) melonjak 4,37 persen ke level Rp 5.375 pada sesi I perdagangan Rabu (10/6/2026) sekitar pukul 09.25 WIB.

Lonjakan ini terjadi setelah mencatatkan nilai beli bersih atau net buy tertinggi mencapai Rp 245 miliar, seperti dilansir dari data aplikasi Stockbit Sekuritas.

>>> Indeks Topix Jepang Terkoreksi Akibat Serangan AS ke Iran

Volume perdagangan saham BBCA mencapai 166,11 juta lembar dengan frekuensi 23.065 kali, sehingga nilai total transaksi sementara menyentuh Rp 877,76 miliar.

Pergerakan saham BCA selaras dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melompat 1,6 persen pada waktu yang sama.

Penguatan IHSG dipengaruhi oleh kenaikan harga Pertamax sebesar 32 persen dan penguatan rupiah di bawah level 18.000 per dolar AS.

Analis Stockbit Sekuritas menilai masih terdapat ketidakjelasan dampak langsung kebijakan harga BBM non-subsidi terhadap APBN.

Namun, kenaikan harga Pertamax dinilai memberikan sinyal kedisiplinan terkait harga energi.

>>> Chatib Basri dan Budi Sadikin Bantah Isu Tawaran Jabatan Menteri Keuangan

Sinyal positif juga datang dari penguatan nilai tukar rupiah yang kembali ke area 17.900 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi.

Pada hari sebelumnya, Selasa (9/6/2026), IHSG ditutup meroket 7,57 persen ke level 5.746 dengan nilai transaksi Rp 27,8 triliun.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mengonfirmasi tiga faktor utama pemicu penguatan pasar: kenaikan suku bunga BI, rencana buyback saham bank Himbara, dan kejelasan regulasi ekspor.

Pembahasan antara DPR, Danantara, Himbara, BPJS, dan asuransi BUMN soal buyback saham bank Himbara menjadi sinyal positif stabilisasi domestik.

Meredanya kekhawatiran terkait aturan penyerahan hasil komoditas ekspor juga meminimalkan risiko gangguan arus kas perusahaan.

>>> IHSG 10 Juni 2026 Sempat Melemah Sebelum Bangkit ke Level 5.800

Ketiga katalis ini bersama-sama memperkuat sentimen positif dan mendorong rebound saham di IHSG.