Nilai tukar rupiah menguat 106 poin atau 0,59 persen ke level Rp17.894 per dolar AS pada perdagangan Rabu (10/6/2026) pagi.

Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,5 persen.

>>> CHINT Solar Siap Investasi Energi Terbarukan di Indonesia

Penguatan rupiah beriringan dengan sejumlah mata uang Asia lainnya.

Yen Jepang naik 0,01 persen, dolar Hong Kong menguat tipis 0,0 persen, dan won Korea Selatan meningkat 0,11 persen.

Namun, beberapa mata uang regional justru melemah terhadap dolar AS.

Yuan China turun 0,06 persen, dolar Singapura menyusut 0,07 persen, baht Thailand merosot 0,46 persen, dan dolar Taiwan melemah 0,11 persen.

Sentimen Global dan Kebijakan BI

Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan ditutup pada kisaran Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS hari ini.

Menurutnya, sentimen pasar global mulai membaik setelah ketegangan di Timur Tengah mereda menyusul seruan dari Amerika Serikat.

>>> Jadwal Lengkap Timnas Jerman di Fase Grup Piala Dunia 2026

Kebijakan domestik turut menjadi penopang utama penguatan rupiah.

Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen sebagai langkah mitigasi dampak gejolak geopolitik global terhadap nilai tukar.

Langkah pengetatan moneter ini juga bersifat pre-emptive untuk menjaga inflasi domestik.

BI menargetkan inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5 persen dengan deviasi kurang lebih 1 persen.

Untuk mendukung stabilitas nilai tukar, BI memandang pentingnya peningkatan imbal hasil instrumen keuangan dalam negeri.

>>> Harga Emas Antam 10 Juni 2026 Merosot, Kini Rp2.713.000 per Gram

Kebijakan ini dibarengi dengan pemberian insentif lain guna menarik aliran modal investasi asing ke pasar domestik.