Faisal menambahkan bahwa dampak kenaikan harga ini akan menekan kelompok masyarakat dengan pengeluaran rendah secara lebih signifikan karena sifat mereka yang sensitif terhadap perubahan harga.

"Spending per kapita per bulannya itu Rp4 juta ke bawah.

Itu gampang sekali turun karena dia sangat-sakat presensitif akan mengurangi pasti konsumsinya terhadap barang-barang yang mengalami kenaikan harga, termasuk karena pelemahan rupiah, nilai tukar," jelasnya.

Pandangan senada diutarakan oleh Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti.

Ia mengingatkan bahwa efek domino pelemahan rupiah bisa menyasar hingga ke komoditas pangan pokok.

"Kalau hanya fashion masih bisa ditahan karena orang beli baju impor bukan tiap hari tetapi hal ini bisa berdampak pada kenaikan harga bahan pangan impor seperti terigu," ujarnya.

Esther menilai situasi ini turut memberatkan beban APBN akibat pembengkakan nilai utang luar negeri dalam denominasi rupiah, sehingga mempersempit ruang intervensi pasar oleh pemerintah.

"Kondisi APBN juga bengkak karena utang luar negeri makin besar nilainya sehingga memperkecil ruang fiskal pemerintah untuk melakukan intervensi pasar karena belanja pemerintah juga harus ditekan," kata Esther.

Sektor ritel seperti fesyen, elektronik, peralatan rumah tangga, dan mainan menjadi yang paling rentan.

Pada saat yang sama, daya beli masyarakat kelas menengah terancam akibat akumulasi kenaikan biaya hidup dan beban utang.

"Pelemahan rupiah membuat biaya produksi barang impor dan bahan baku naik. Hal ini langsung diteruskan ke konsumen melalui lonjakan harga barang kebutuhan sehari-hari, bahan bakar, dan elektronik," ucapnya.

>>> Ralf Rangnick Tunda Terima Tawaran AC Milan karena Minta Jaminan Tertulis

Guna menahan tekanan ekonomi lebih lanjut, Esther menyarankan agar stabilisasi nilai tukar dibarengi dengan penguatan disiplin fiskal, peningkatan ekspor, pengembangan pariwisata, serta diversifikasi pasar internasional.