Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp18.100 pada 10 Juni 2026
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah pada perdagangan Rabu, 10 Juni 2026.
Mata uang Garuda diproyeksikan berada pada rentang Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS.
>>> Timnas U19 Indonesia Hadapi Australia di Semifinal Piala AFF U19 2026
Sebelumnya, rupiah ditutup menguat 170 poin atau 0,94 persen ke posisi Rp18.000 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, berdasarkan data RTI Infokom.
Penguatan itu terjadi bersamaan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia.
Yuan China menguat 0,19 persen, dolar Hong Kong naik 0,01 persen, dan won Korea meningkat 0,38 persen.
Sementara itu, yen Jepang turun 0,01 persen, dolar Singapura naik 0,16 persen, baht Thailand turun 0,12 persen, dan dolar Taiwan melemah 0,03 persen.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen pasar sempat membaik setelah Iran dan Israel menyatakan penghentian aksi saling serang.
Langkah itu menyusul permintaan Presiden AS Donald Trump agar kedua pihak menghentikan baku tembak.
Meski demikian, Teheran menyatakan akan melanjutkan serangan jika Israel terus menggempur kekuatan Hizbullah di Lebanon.
>>> Saham Wall Street Mayoritas Tumbang Akibat Tekanan Sektor Teknologi
Situasi ini membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi ketegangan lanjutan.
Investor juga mencemaskan inflasi yang didorong sektor energi akan tetap tinggi.
Kondisi itu memicu pelaku pasar mengurangi ekspektasi terhadap penurunan suku bunga Federal Reserve, bahkan memperhitungkan peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut yang mendorong kenaikan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah.
Langkah Antisipasi Bank Indonesia
Dari dalam negeri, Bank Indonesia telah mengambil langkah pre-emptive dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen.
Kebijakan moneter itu diambil sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.
Kenaikan suku bunga ini ditujukan untuk memitigasi dampak tingginya gejolak global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Selain itu, langkah tersebut menjadi strategi menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
>>> Jadwal Wakil Indonesia di Hari Kedua Australian Open 2026
Bank Indonesia menilai penting menempuh kebijakan lanjutan guna menjaga stabilitas nilai tukar dengan cara meningkatkan kembali imbal hasil serta memberikan sejumlah insentif lain demi menarik aliran investasi asing masuk ke dalam negeri.
Update Terbaru
Harga BBM Pertamina di Jabodetabek Naik per 10 Juni 2026
Rabu / 10-06-2026, 06:45 WIB
Alphabet Himpun Dana Saham Rekor 85 Miliar Dollar AS untuk AI
Rabu / 10-06-2026, 06:44 WIB
Pertamina Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp16.250 Per Liter di Jakarta
Rabu / 10-06-2026, 06:44 WIB
GSK Akuisisi Nuvalent Senilai Rp190 Triliun untuk Perkuat Portofolio Kanker
Rabu / 10-06-2026, 06:44 WIB
John Herdman Targetkan Timnas Indonesia Jaga Tren Kemenangan Beruntun
Rabu / 10-06-2026, 06:41 WIB
Iran Protes FIFA Usai Jatah Tiket Piala Dunia Dicabut Sepihak
Rabu / 10-06-2026, 06:41 WIB
Jaksa Tolak Pleidoi Nadiem Makarim, Tetap Tuntut 18 Tahun Penjara
Rabu / 10-06-2026, 06:40 WIB
Bank Raya Optimistis Hadapi Kenaikan BI Rate dengan Perkuat Dana Murah
Rabu / 10-06-2026, 06:36 WIB
Serial Live Action Scooby-Doo Rilis Tampilan Perdana, Tayang 2027
Rabu / 10-06-2026, 06:35 WIB
IHSG Melonjak 7,57% ke 5.746 Setelah BI Naikkan Suku Bunga
Rabu / 10-06-2026, 06:35 WIB
IHSG Diprediksi Lanjut Menguat pada Rabu 10 Juni 2026
Rabu / 10-06-2026, 06:32 WIB
Stadion Jordan-Hare Penuh Suporter Jelang Argentina vs Islandia
Rabu / 10-06-2026, 06:30 WIB
Lonjakan Unduhan FF Kipas Beta Picu Ancaman Keamanan Siber
Rabu / 10-06-2026, 06:30 WIB
Ketegangan Timur Tengah Picu Penurunan Kunjungan Turis di Dubai
Rabu / 10-06-2026, 06:30 WIB






