Presiden China Xi Jinping mengadakan pertemuan bilateral dengan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un di Pyongyang. Pertemuan ini bertujuan meningkatkan kemitraan strategis kedua negara.

Kesepakatan penting dicapai, termasuk penegasan dukungan penuh Korea Utara terhadap kebijakan "Prinsip Satu China" yang diusung Beijing terkait kedaulatan atas Taiwan.

>>> Pangsa Pasar Alfamart Naik Jadi 36,2 Persen, Ekspansi Gerai Agresif Jadi Kunci

Pemerintah China memandang Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari teritorialnya, meskipun klaim tersebut ditolak oleh pihak Taiwan.

Selain isu diplomasi, kunjungan Xi yang didampingi Ibu Negara Peng Liyuan diisi kegiatan simbolis.

Mereka mengunjungi Menara Persahabatan Tiongkok-Korea dan menanam pohon cemara bersama Kim Jong Un serta Ri Sol Ju.

Kunjungan ini juga dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama di sektor perdagangan dan pariwisata. China merupakan mitra dagang terbesar bagi Korea Utara.

Sejumlah analis melihat perbedaan fokus pemberitaan. Xinhua menonjolkan usulan kerja sama konkret ekonomi, sementara KCNA lebih menekankan kesetaraan hubungan antarnegara.

Peneliti senior Korea Institute for National Unification, Hong Min, menilai Pyongyang sengaja menyusun narasi agar tidak terlihat bergantung pada Beijing.

"Korea Utara menghapus unsur-unsur yang dapat membuatnya terlihat sebagai pihak bawahan, lalu menulis ulang hubungan tersebut sebagai hubungan antarpihak yang setara," ujarnya.

Narasi kemitraan setara diperkuat dengan penonjolan pesan-pesan geopolitik yang selaras.

"Mereka memperkuat sinyal solidaritas, seperti pesan anti-Amerika Serikat dan terkait Taiwan, sambil menghilangkan kesan ketergantungan," tambah Hong Min.

>>> Lionel Scaloni Berpeluang Cetak Sejarah Hebat Bersama Argentina

Tanggapan dari masyarakat Beijing juga muncul. Zhu, seorang dokter di Beijing, mengatakan, "Tentu ada harapan yang baik bagi hubungan China dan Korea Utara."