Kementerian Haji dan Umrah bersama Musyrif Diny, lembaga pembimbing ibadah haji, mulai menyusun panduan pembinaan kemabruran haji. Panduan ini dirancang sebagai rujukan bagi jamaah setelah kembali ke Indonesia.

Penyusunan panduan tersebut bertujuan memastikan nilai-nilai ibadah haji tetap berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Pemerintah berharap jamaah dapat menjadi agen perubahan sosial yang membawa manfaat bagi lingkungan dan bangsa.

>>> OJK Proyeksikan Pembiayaan Dana Tunai Multifinance Tumbuh Positif hingga 2026

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tujuan penyelenggaraan haji.

Target besarnya tidak hanya sukses secara ritual, tetapi juga sukses dalam membangun peradaban, keadaban masyarakat, serta karakter jamaah.

Kesepakatan dengan Dirjen Bina Haji

Anggota Musyrif Diny Faturahman Kamal mengatakan pihaknya telah bersepakat dengan Direktorat Jenderal Bina Haji untuk menyusun panduan yang dapat menjadi acuan dalam pembinaan kemabruran jamaah haji pascapelaksanaan ibadah di Arab Saudi.

"Kami sudah sepakat dengan Dirjen Bina Haji untuk menyusun suatu panduan yang bisa dijadikan sebagai referensi dalam membina kemabruran haji kita pascamereka menunaikan ibadah haji di Tanah Suci," kata Faturahman setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Selasa (9/6/2026).

Faturahman menjelaskan Musyrif Diny memiliki mandat dari pemerintah untuk memastikan seluruh rangkaian ibadah jamaah Indonesia berlangsung sesuai syariat Islam dan kaidah fikih.

Lembaga ini juga berperan menjembatani berbagai pandangan keagamaan serta fatwa di masyarakat.

Dua Prinsip Utama Pendampingan Ibadah

Terdapat dua prinsip utama yang menjadi pegangan dalam pendampingan ibadah haji pada musim haji tahun ini.

Prinsip pertama adalah penerapan paradigma fikih yang memberikan kemudahan kepada jamaah dalam menjalankan ibadah.

Pendekatan tersebut terutama ditujukan bagi kelompok lanjut usia, penyandang disabilitas, serta jamaah perempuan yang jumlahnya cukup dominan pada musim haji tahun ini.