Holding BUMN Farmasi yang dipimpin PT Bio Farma (Persero) menargetkan laba bersih konsolidasi sekitar Rp2 miliar pada akhir 2026.

Target ini disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Jakarta pada Selasa (9/6/2026).

>>> China Siapkan Investasi 2 Triliun Yuan untuk Jaringan Pusat Data AI

Pemulihan performa didorong oleh realisasi kinerja operasional pada 2025 yang mencatatkan EBITDA positif sebesar Rp827 miliar.

Pencapaian tersebut membalikkan kondisi pada 2024 saat EBITDA akumulatif grup masih negatif dengan rugi bersih konsolidasi Rp1,08 triliun.

Perbaikan finansial terjadi meski pendapatan konsolidasi turun tipis menjadi Rp14,67 triliun dari Rp15,1 triliun pada tahun sebelumnya akibat keterbatasan modal kerja.

Restrukturisasi keuangan dan efisiensi biaya operasional di sejumlah anak usaha menjadi faktor utama penyusutan rugi bersih holding menjadi Rp45 miliar.

Direktur Utama Bio Farma Shadiq Akasya mengatakan, pada 2025 perseroan sudah mencatatkan EBITDA positif.

Peningkatan laba operasional ditopang oleh Bio Farma dengan EBITDA Rp580 miliar dan perbaikan kinerja PT Kimia Farma Tbk. yang membukukan EBITDA positif Rp245 miliar.

Sementara itu, PT Indofarma Tbk. masih mencatat EBITDA negatif Rp112 miliar, meski membaik dari minus Rp225 miliar pada tahun sebelumnya.

>>> Eksploitasi Sumber Daya di Cabo Delgado Picu Kebangkitan Terorisme

Shadiq menambahkan, dengan EBITDA positif sangat memungkinkan perusahaan mendapatkan keuntungan.

Target Pendapatan dan Laba 2026

Memasuki 2026, holding farmasi mematok target pendapatan Rp15,9 triliun dengan bidikan EBITDA naik menjadi Rp1,55 triliun dalam RKAP.

Kontribusi pendapatan direncanakan dari Kimia Farma sebesar Rp10,4 triliun, Bio Farma Rp5,5 triliun, dan Indofarma Rp351 miliar.

Shadiq menjelaskan, laba bersih Bio Farma sendiri sesuai RKAP harus mencapai Rp246 miliar, Kimia Farma masih rugi Rp268 miliar, dan Indofarma laba Rp13 miliar.

Hingga kuartal I/2026, penjualan konsolidasi unaudited grup telah mencapai Rp2,7 triliun dengan laba bersih Rp175 miliar.

Manajemen kini berfokus menggeser portofolio dari produk generik lama ke produk baru demi mendongkrak margin keuntungan.

>>> Luhut Minta Polemik Makan Bergizi Gratis Dihentikan

Shadiq menekankan perlunya perubahan portofolio di produk farmasi dan Bio Farma agar diimbangi dengan produk-produk baru.