Eksploitasi sumber daya alam oleh otoritas dan pihak asing memicu kemiskinan ekstrem di Cabo Delgado, Mozambik.

Kondisi ini mendorong warga bergabung dengan kelompok ekstremis Al Shabab yang meluncurkan serangan pertama pada Oktober 2017.

>>> Luhut Minta Polemik Makan Bergizi Gratis Dihentikan

Kemunculan kelompok bersenjata ini tumbuh subur di tengah korupsi pemerintahan dan tindakan brutal aparat keamanan.

Krisis bermula pada tahun 2017 di Namanhumbir ketika ribuan penambang tradisional ditangkap secara brutal atas tuduhan penambangan ilegal.

Sebagian penambang yang terusir kemudian memilih bergabung dengan kelompok bersenjata misterius yang kini tumbuh besar di wilayah utara tersebut.

"A partir daí foi a guerra," ujar seorang penambang kepada International Crisis Group dalam laporan tahun 2021.

Sentimen ketidakadilan ini dimanfaatkan oleh kelompok Al Shabab sebagai narasi utama propaganda mereka untuk merekrut anggota baru.

Wilayah Cabo Delgado sendiri menguasai 80 persen stok rubi dunia, yang izin tambangnya dikuasai oleh Montepuez Rubis Mining (MRM).

"O açambarcamento dos recursos naturais por empresas estrangeiras é um dos principais temas do discurso dos Al Shabab," jelas João Feijó, peneliti di Observatório do Meio Rural.

MRM merupakan anak perusahaan dari raksasa Inggris Gemfields Limited, yang 25 persen sahamnya dimiliki oleh jenderal terkemuka FRELIMO, Raimundo Pachinuapa.

Pada 2019, Gemfields membayar ganti rugi 6,7 juta euro kepada 273 penambang melalui firma hukum Leigh Day atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia oleh tim keamanan mereka.

"As torturas, as capturas ilegais, os assassínios… tudo isto continua," kata Aly Caetano, koordinator Centro para a Democracia e Direitos Humanos (CDD) di Cabo Delgado.