"Saat ini kondisi pasar alat berat relatif stabil dan masih berada pada level yang kurang lebih sama dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

>>> BEI Dorong Anggota Bursa Jadi Liquidity Provider untuk Tingkatkan Likuiditas

Aktivitas sektor pertambangan masih cukup baik, meskipun pelanggan tetap selektif dalam melakukan investasi dan lebih fokus pada produktivitas serta efisiensi operasional," jelas Ardianus Hadiwinata.

Dampak pengetatan kebijakan RKAB sebelumnya dinilai sempat menahan laju belanja modal korporasi pertambangan.

Penurunan volume penjualan pun sempat dirasakan mayoritas emiten alat berat pada kuartal pertama tahun ini.

"Dengan adanya relaksasi RKAB maka pengusaha dapat meningkatkan kapasitas produksi dan penjualannya.

Kenaikan produksi akan membutuhkan tambahan alat berat," ujar Willianto Febriansa, Direktur PT Intraco Penta Tbk kepada Industri, Selasa (9/6/2026).

Dukungan atas rencana pelonggaran regulasi ini juga mengalir dari pelaku industri hilir pertambangan lainnya.

Stimulus berupa peningkatan kuota produksi batubara dinilai dapat menjadi motor penggerak utama penjualan unit baru.

"Sebagai pelaku industri distributor alat berat, tentu kami mendukung setiap kebijakan pemerintah, terlebih jika bertujuan untuk mengairahkan iklim bisnis.

Kami berharap kebijakan tersebut dapat memacu produksi tambang, terutama pertambangan batubara, sehingga berdampak pada peningkatan penjualan alat berat," ujar Gabrielle Azelia, Corporate Secretary PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) kepada Industri, Selasa (9/6/2026).

Emiten tersebut mencatatkan pertumbuhan penjualan alat berat sebesar 28% pada kuartal I-2026.

Namun, manajemen mengingatkan adanya tantangan makroekonomi seperti fluktuasi nilai tukar rupiah, harga bahan bakar, hingga persaingan pasar yang ketat.

>>> Tiga Mahasiswa KIP-K Unusa Raih Double Degree dari Taiwan

"Faktor-faktor tersebut sangat berperan terhadap permintaan alat berat, terlebih di tengah persaingan dengan merek-merek alat berat baru asal Tiongkok," kata Gabrielle Azelia.