Baterai pada sepeda motor listrik murah di Indonesia masih banyak yang menggunakan jenis Sealed Lead Acid (SLA) atau aki kering.

Komponen ini dinilai lebih mudah rusak dan memiliki usia pakai yang pendek.

>>> Mitsubishi Eclipse Kembali, Tapi Kini Jadi Mobil Listrik Rebadge Nissan

Pemilik bengkel spesialis baterai kendaraan listrik Bogor Battery Electric Motion (BEMo) di Semplak, Bogor, Hernest, mengungkapkan penyebabnya.

Menurutnya, baterai SLA tidak dilengkapi sistem pengaman pintar seperti Battery Management System (BMS) yang ada pada baterai litium.

"Baterai Lithium itu awet karena ada BMS untuk mengatur cut off saat overcharge atau undercharge. Tapi kalau sistemnya SLA, itu tidak ada," ujar Hernest.

Tanpa BMS, baterai SLA terus menerima arus listrik meskipun sudah penuh. Akibatnya, baterai bisa mengalami kembung dan performanya menurun drastis.

"Kalau SLA, begitu daya sudah full tapi tetap tercolok, arusnya tetap disuapi terus. Akhirnya baterainya kembung.

>>> Korlantas Polri Perpanjang Moratorium Sirene dan Pengawalan di Perkotaan

Kalau aki SLA sudah kembung dan indikatornya mulai naik-turun saat tuas gas ditarik, itu tanda performanya sudah drop total," jelas Hernest.

Hernest memperkirakan baterai SLA hanya mampu bertahan enam hingga 12 bulan. Sebagai perbandingan, harga penggantian baterai SLA baru sekitar Rp 1,3 juta.

Bagi pemilik yang ingin solusi jangka panjang, opsi upgrade ke baterai litium tersedia. Biaya modifikasi di bengkel spesialis mencapai sekitar Rp 2,5 juta.

"Sebagai contoh, pengguna punya motor listrik tipe SLA bawaan pabrik. Umur akinya hanya bertahan enam sampai 12 bulan dengan harga penggantian baru sekitar Rp 1,3 juta.

>>> Simulasi Kredit Wuling Cortez Darion EV: DP Mulai Rp65 Juta, Tenor hingga 5 Tahun

Nah, kalau mau di-upgrade di tempat saya ke baterai Lithium, biayanya berkisar di angka Rp 2,5 juta," kata Hernest.