Proses balancing baterai untuk menyamakan voltase antar sel kini mulai banyak dicari pemilik kendaraan listrik dan hybrid di Jakarta.

Tujuannya untuk mengoptimalkan kembali kinerja daya yang menurun.

>>> Singapura Tanggapi Kebijakan Ekspor Satu Pintu Komoditas Strategis RI

Kepala Teknisi Domo Hybrid EV Yogig Pramono menjelaskan bahwa durasi pengerjaan sangat bergantung pada kapasitas baterai, jumlah sel, dan tingkat perbedaan voltase.

"Kalau kapasitas baterainya besar biasanya agak lama, bisa seharian atau 24 jam," ujarnya.

Jika baterai memiliki 100 sel, proses balancing bisa memakan waktu hingga tiga hari. "Baru kemungkinan 100 persen sudah benar-benar sama," kata Yogig.

Faktor yang Memperlambat Proses

Hambatan waktu justru muncul ketika selisih voltase antar sel sudah semakin kecil.

Yogig mencontohkan, selisih 0,5 atau 0,7 volt membuat proses balancing lebih lambat dibandingkan selisih yang masih besar.

>>> Janice Tjen dan Aldila Sutjiadi Jadi Unggulan di Libema Terbuka 2026

Ia mengumpamakan kondisi ini seperti pengisian daya ponsel yang melambat saat mendekati kapasitas penuh.

"Kalau selisihnya sudah mulai 0,3 atau 0,5, balancing tidak bisa secepat saat selisih 1 volt atau di atas 0,5," jelasnya.

Mengenai biaya, layanan balancing belum memiliki tarif khusus karena masih digabung dengan pemeriksaan kesehatan baterai (State of Health/SOH).

"Untuk harga cek SOH Rp 800.000 belum termasuk jasa bongkar pasang," kata Yogig.

>>> Telkom Buyback Saham Rp4 Triliun dan Bagikan Dividen, Analis Optimistis

Penurunan performa baterai atau berkurangnya jarak tempuh menjadi indikator utama pemilik kendaraan melakukan balancing. Namun kondisi tersebut tidak selalu berarti terjadi kerusakan permanen pada komponen.