Potensi pemulihan didukung harga komoditas dunia seperti nikel, batu bara, dan emas yang masih positif.

Faktor lain yang ditunggu pasar adalah kepastian dari MSCI pada 24 Juni 2026 mengenai status Indonesia sebagai emerging market.

Kejelasan hukum ekspor komoditas dan stabilisasi rupiah juga menjadi penentu.

Saat ini, TPIA dinilai menarik karena rasio EV to EBITDA 4-5 kali, lebih rendah dari rata-rata regional 7-9 kali.

BRPT ditopang pertumbuhan laba bersih kuartal I-2026 dan free float 26,7%.

Alternatif lain adalah ANTM yang memiliki diversifikasi produk emas, nikel, dan alumina. Ada pula BSSR dengan PBV 0,55 kali, DER mendekati nol, dan kas yang sehat.

Ekky merekomendasikan buy on weakness untuk ANTM, TINS, MDKA, dan INCO.

Target harga ANTM Rp 3.000-Rp 3.500, TINS Rp 3.600-Rp 4.000, MDKA Rp 2.800-Rp 3.000, dan INCO Rp 5.000-Rp 5.100 per saham.

>>> Analisis Peluang Negara Eropa Dominasi Piala Dunia 2026

Menurut Ekky, sektor ini tetap menarik bagi investor jangka menengah yang toleran terhadap volatilitas. Pemulihan diperkirakan bertahap dan selektif, menunggu kepastian regulasi dan arus dana asing.